Pembunuhan Terakhir

Berjalan aku di pasar-pasar, ladang-ladang, dan sesekali mampir aku ke mushola atau masjid saat ada panggilan. Berlari aku di pagi hari, agak siang sedikit, aku berjalan, dan di siang yang terik aku terseok-seok menyerek tubuh lunglaiku. Aku ingin terus berlari, terus berjalan, sejauh yang mungkin aku dapat. Aku pikir, aku bisa sejauh yang aku inginkan, tapi sayangnya aku tak ingin terlau jauh.

Tak perlu aku pergi jauh untuk lepas dari kejaran para polisi dungu itu. Karena kedunguan mereka, sebenarnya aku sama sekali tak perlu menjauh dari TKP, tempat aku melakukan tindakan kriminal tadi. Tindakan kriminal itu kalau dikonversi ke dalam hukum agama, sepertnya tak ada ampunan. Itu adalah pembunuhan yang ke sembilan belas kalinya. Sungguh, untuk menjadi lanyah dan layak untuk disebut pembunuh berdarah dingin itu tidaklah susah. Kemudahan ini sejalan dengan peningkatan kurva berpangkat lebih dari satu.

Pembunuhan yang pertama kemarin bukan suatu kesengajaan, seperti biasanya, hanya kesempatan yang didasarkan pada sebab yang aku anggap benar; terpaksa. Selanjutnya , pembunuhan selanjutnya semakin mudah saja. Seperti peningkatan pada kurva eksponensial tadi. Ya, semakin sering aku membunuh, semakin kecil peridoe yang aku butuhkan, dan semakin intens. Parahnya, perasaan berdosa ini tidaklah kunjung mengecil, tapi semakin hari justru semakin membebani pikiran ini. dan seharusnya aku bersyukur tentang itu.

Aku rasa pelarianku kali ini sudah cukup jauh.
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Mabruri menulis |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.