Lebih dari 'Jalan Emas'

Ahad malam (malam Senin), 5/12



Jalan Emas (baca Golden Ways) adalah nama acara disuatu televisi swasta nasional yang menayangkan motivator ternama tanah air. Jelaslah isinya semacam kata-kata bijak penuntun hidup kita. Kecenderungan yang saya rasakan dari tayangan itu adalah rasionalnya manusia: kesuksesan. Untuk acara itu saya beri level baik atau bagus untuk ditonton.



Namun, berhubung pada hari dan jam yang hampir bersamaan, ada acara atau kegiatan yang menurut saya (dan menurut orang-orang yang hadir pada acara ini) lebih baik. Jadilah saya memilih itu. Kegiatan ini mempunyai kesamaan dengan Jalan Emas itu, yaitu membentuk pribadi yang lebih baik. Perbedaannya ada pada dasar dan orientasinya.



Menurut saya, Jalan Emas itu berdasar pada pemikiran manusia yang rasional dan berorientasi pada sukses di dunia (meski dengan cara akhirat) sedangkan yang satunya tadi berdasar pada gabungan ketentuan dan pemikiran yang orientasinya sukses dunia-akhirat.



Apa itu?

Adalah kajian kitab Al Hikam (tasawuf) karangan Ibnu Athaillah As Sakandari.



Salah satu tuturan Beliau setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah:

"Bukanlah orang yang tawadhu' atau merendah diri, seorang yang jika merendahkan diri merasa dirinya di atas yang dilakukannya. Tetapi orang yang yang benar-benar merendahkan diri adalah orang yang jika merendahkan diri merasa bahwa dirinya masih berada di bawah sesuatu yang dilakukannya."



Apa maksudnya? Tentu penjelasan itu bisa didapatkan pada Ahad Malam pukul 20.00 di Mushola Nurul Jannah. Monggo bagi yang berdomisili di sekitar kampus STAN. Dari gang Jengkol, ke utara saja. Jauh sih, tapi itulah perjuangan yang harus kita tempuh.



Saya yakin, seharusnya, banyak pembaca yang sudah tahu Al Hikam. Siapa yang menonton film Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2 dan/atau membaca novelnya? Al Hikam ada di situ. Itu lho yang dibaca Azzam ketika diamanahi menggantikan calon mertuanya (Dedy Mizwar sebagai Abah Anna Alhtofunnisa) pada kajian rutin Al Hikam. Dan juga yang dibaca juga oleh Azzam saat masih di Cairo sana. Al Hikam di Indonesia lebih banyak dikenal di kalangan pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sekarang, sudah ada buku terjemahan Al Hikam yang dikemas modern. Saya lihat ada dua macam. Salah satu saya tahu harganya Rp44.000 di Gramedia Bintaro Plaza.



Semoga bermanfaat. Maaf. Terima kasih.

Luna 2#: Lewat Sebuah Bulan Kukatakan Dua Hal

Pendahuluan

Saat memasuki kawasan baru, salah satu hal yang ingin kita ketahui pertama adalah arah. Lalu lebih spesifik, arah kiblat (ka'bah). Beberapa cara yang paling sering untuk mengetahuinya adalah bertanya. Akan tetapi sayangnya jawaban yang datang tidak pernah (atau jarang) diklarifikasi kebenarannya. Ambillah contoh ketika pertama kali menjadi anak kos. Kita bertanya tentang arah kiblat untuk keperluan kita sholat selama di kosan, "Wahai Ibu Kos, yang manakah arah kiblat itu?". Apakah kita terima begitu saja arah mana yang dikatakan oleh si pemberi informasi? Bukankah wajib bagi kita untuk mengklarifikasinya? Saya katakan: ada ilmu yang bisa kita aplikasikan.



Pembahasan

Lihatlah tanda-tanda alam (dengan ilmu tentunya)Maksud saya di sini antara lain dengan melihat matahari maka kita dapatkan gambaran kasar arah barat-timur. Mungkin tidak relevan jika saya menuliskan: lihatlah rasi bintang ursa mayor dan itulah utara atau lihatlah rasi bintang layang-layang dan itulah selatan (karena bukan pengetahuan yang umum diketahui masyarakat awam).



Ada peristiwa alam yang secara pasti memberi tahu kita arah kiblat dengan akurat. Adalah peristiwa alam saat matahari berada di atas Mekkah yang saya maksudkan. Peristiwa ini hanya ada dua kali setahun yaitu bulan Mei dan Juli. Jadi mau tidak mau kita harus menunggu waktu itu datang untuk mengecek arah kiblat kita yang berdasar "katanya si ini", "katanya si dia", "kata ibu kos", atau "kata orang tua".



Alternatif lain untuk menentukan arah kiblat adalah dengan menghitung. Boleh kukatakan kalau itu adalah rumit. Sebenarnya tidak terlalu sulit, hanya saja kita belum banyak belajar tentang itu (saya sendiri sudah lupa). Bagi yang tahu tentang segitiga bola, silahkan dihitung arahnya. Yang diperlukan untuk menghitung adalah koordinat tempat kita tinggal, koordinat Mekkah (Masjidil Haram), kompas, dan kalkulator.



Nah, untuk sementara, jika kedua hal di atas belum memungkinkan, kita bisa menyamakan arah kiblat kita dengan arah kiblat masjid. Bagaimana caranya?



Kebetulan pada subuh hari Senin (22/11) saya melihat ke arah mana mushola Mujahiddin menuju. Anggap saja saya melihat kubahnya dari halaman depan. Dibelakang kubah yang saya lihat, ada bulan yang sedang purnama. Nah, dari situlah kita bisa mematok arah bahwa pada keadaan itu (waktu dan tempat itu), menghadap bulan purnama adalah menghadap kiblat. Lalu saya pulang dan melihat bulan yang berketinggian sekitar 20O dari horizon (permukaan tanah). Dengan cara itulah saya menentukan ke arah mana saya sebaiknya menghadap ketika sholat.



Asumsi: mushola Mujahiddin telah mengarah ke ka'bah. Saya memastikan (meyakinkan) itu ketika Matahari berada di atas Mekkah Juli lalu.



Jika kebetulan pada suatu saat bulan tidak ada, kita bisa menggunakan benda apa saja yang terlihat di langit siang maupun malam. Tentu benda itu harus relatif tetap untuk masa yang tidak terlalu singkat. Di sini saya menganggap posisi bulan relatif tetap dalam waktu 3 menit (waktu saya berjalan dari mushola ke halaman rumah, kurang lebih).



Itu hal pertama yang saya ingin sampaikan melalui Luna (bulan). Hal kedua berkaitan dengan kepurnamaan bulan pada malam Senin (Diketahui: hari ini adalah hari Senin tanggal 22 November 2010). Jadi, tadi malam adalah purnama. Bagi yang memperhatikan, apakah Anda setuju? Saya juga melihat aplikasi Stellarium dan memastikan bahwa bulan terbit ketika matahari terbenam: tanda bulan purnama atau tanggal setengah.



Kita harusnya setuju bahwa tadi sekarang adalah tanggal 15 Dzulhijjah 1431 H. Mari hitung mundur kebelakang 5 hari. Minggu, Sabtu, Jumat, Kamis, Rabu: sesuai dengan tanggal 14, 13, 12, 11, 10 Dzulhijjah. Jadi, hari Rabu adalah tanggal 10 Dzulhijjah 1431. Hari apa itu? Pemerintah menetapkan itu sebagai Hari Raya Idul Adha 1431 H, dan itu sesuai dengan keadaan di lapangan.



Perhitungan dan Pengamatan? Mana yang benar?Stellarium adalah sebuah aplikasi, dan oleh karena itu pastilah ia produk hitungan. Jadi, apa yang membuat beda? PadahalStellarium sendiri menampilkan data yang sama dengan pengamatan. (ini berkaitan dengan perbedaan pelaksanaan hari raya Idul Adha 1431 H di Indonesia karena perbedaan metode penentuan yang digunakan: perhitungan dan pengamatan)



Simpulan

Sebenarnya, pembahasan di atas bukanlah semata-mata tentang arah dan waktu yang banyak menjadi masalah. Tulisan ini saya maksudkan untuk lebih menekankan pentingnya kita melakukan cek dan ricek,b ahkan triple cek, atas suatu berita yang datang kepada kita.



*



Catatan kaki: Sebagai referensi sajaPada Oktober atau November 2008, saya (dan teman-teman) menghitung arah ka'bah dari Bandung. Hasil yang didapatkan adalah angka sekitar 250 ke utara dari arah barat. Nah kebiasaan orang di Indonesia itu menganggap bangunan menghadap ke barat, timur, selatan, atau utara. Tidak disadari keserongannya (ketidaktepatannya) dari empat arah kardinal yang umum itu. Jadi, kebiasaan yang sering dipakai orang adalah menyerongkan ke kanan beberapa derajat dari arah-yang-menurut-bangunan-itu-adalah-barat. Padahal belum tentu arah bangunan itu tepat ke salah satu dari empat arah utama kardinal.



Saya hanya menyampaikan ini, tidak ada maksud paksaan atas apapun mengingat bahwa yang penting adalah keyakinan kita menghadap ka'bah, bukan keakurantannya. Sekali lagi, lakukanlah periksa ulang terhadap berita yang datang pada kita, termasuk tulisan ini.





Semoga bermanfaat.

Subuh di Teluk Barat

Subuh di Teluk Barat

: istri seorang nelayan



Kau, jala, pancing, dan perahu

serta serantang sarapan

melabuh laut dalam gelap, meninggalkan Teluk Barat

ke laut lepas.



Aku tak menunggumu pulang

karena kau tak pernah kuanggap pergi

Aku tak berharap tangkapanmu,

mengolahnya, memakannya kita berdua

Aku setia menunggu tubuhmu untuk ku-lap keringatnya

dan mengisi kembali rantang sarapanmu.

*

subuh ketujuh aku tak mengisi rantang sarapanmu,

kularung sarapan, tapi bukan dalam rantang

kau sudah tak butuh rantang



karena pasti kau tak makan sepekan itu

"Aku suapin ya?"

mulai kukirim sepotong gerak bibir

bersuara tentang ayat-ayat dari buku yang tidak ada keraguan di dalamnya

sebagai kabar gembira

:bahwa kau masih mendapat sarapan dariku

sebagai pengingat, dan mengingatkan



pasti laut lepas Teluk Barat belum pernah mendengar-Nya darimu.



Bintaro-Jurangmangu, 9 November 2010

selepas Quiz Cost Accounting yang mendadak.

Pengungsi

Bila tempat mengungsi (di Jogja) tidak nymaman bagi kalian,

keluarlah dari keistimewaan Jogja, tengok saudara-saudara Anda sekalian di luar sana. Ada Kebumen tempat tujuan bersilaturrahmi, singgahlah di salah satu desanya. Desa Murtirejo, desa industri. Anda bisa mengungsi sambil bekerja. Bolehlah Anda mengetok satu rumah kecil yang menghadap selatan, perkenalkan diri anda sebagai sahabat yang jujur beserta ketidakberuntungan bencana. Lihatkan pada orang yang membukakan pintu KTP anda.



Mengapa Anda sekalian masih berdiam diri di Jogja? Kalian mempunyai pilihan untuk bersua saudara di luar Jogja, bersalam-salaman bertukar senyum.



....karena banyak orang yang tidak bisa memberikan materi, orang-orang itu menyiapkan tempat singgah di kediamannya, bila Anda berkenan.

A Farmer of Rocky Malang

Mendung kali ini aku berharap akan membawa kabar baik berupa hujan ringan menyiram palawija muda di sawah-sawah. Biarlah pemiliknya bertambah lega dalam lebaran kali ini.

Sore ini anak mulai berangkat ke rantau lagi. Menyisakan kehangatan sepi. Besok semua aktivitas kembali normal. Orang kembali bekerja di rantau. Aku dan yang lain kembali bersawah. Semua berjalan sudah pada tradisi sesuai waktu dan tempat.

Tradisiku menghormati sore dengan beristirahat sambil selalu mengagumi Sang Pengatur kehidupan. Aku telah diatur dan ditugaskan menjaga bumi-Nya di sawah, tegalan, dan pekarangan. Upah dari itu adalah singkong ini yang ditemani kopi mengepul. Singkong goreng yang dihasilkan tegalan. Kopi ini ditumbuk oleh istri, bijinya diberi saudara dari desa seberang Sungai Tapak Ular (baca: Luk Ulo). Kalau sawahnya sudah tentu selalu menghasilkan padi dua kali setahun dan sekali untuk palawija. Padi dimakan cukup untuk dua tahun. Kadang ditukar dengan telor dari piaraan tetangga seputar, atau juga ayam. Pekarangan belakang, seperti juga orang-orang, menjadi kebun sayuran. Bermacam-macam untuk menghindari kejenuhan menu.

Rasanya aturan ini begitu selaras. Menjadikanku merasa sejahtera adanya. Mungkin sampai tadi pagi aku menghukum diriku sudah sejahtera.

Tapi siang tadi, lewat TV yang baru dibawa mudik anak bungsuku, aku menonton berita yang menggerogoti hati. Sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan tradisi mereka itu. Sepertinya ada segerombolan orang--banyak--muda berseragam berteriak-teriak marah. Anak bungsuku memberi terjemah untukku; mereka mahasiswa yang sedang protes atas rencana DPR membangun gedung baru yang mewah. Aku masih bingung. Ada istilah yang tidak aku tahu. Banyak yang tidak kutahu. Anak bungsuku memperjelas, orang-orang yang di atas sana, bagian dari pemerintah ingin kantor yang kinclong-kinclong dan ada kolam renang. Oh. Aku tahu. Aku ternyata dikhianati. Ah, tapi berprasangka baik akan lebih baik. Mungkin pejabat butuh tempat untuk mandi janabat bersama-sama.

Sungai Tapak Ular mulai melunak mendengar adzan maghrib

Riba dan Present Value of Money

Bagi yang belum kenal dengan istilah present value atau PV, silahkan baca tulisan ini (berdasarkan pemahaman saya):
present value of money: nilai sekarang dari uang: adalah nilai sebenarnya dari suatu nominal uang dalam kurun waktu tertentu.

Misalnya, uang bernominal Rp10.000,00 pada tahun 2000 nilainya tidak sama dengan nilai uang bernominal sama pada 10 tahun kemudian, yaitu 2010. Kalau orang tua (Jawa pula) mengatakan uang segitu sudah tidak 'pengaji' saat ini.

Dari PV of Money (selanjutnya saya menulisnya dengan PVoM) inilah saya menemukan titik tidak impas jika dihubungkan dengan utang jangka panjang yang tak berbunga, bukan obligasi ataupun Surat Utang Negara.

Misalnya orang-perorangan terhubung dalam utang piutang dalam jangka 10 tahun. Oleh karena dua orang bersangkutan ini tidak ingin ada riba, maka tidak ada bunga pinjaman. Pada tahun 2000, si A meminjam uang kepada si B sejumlah Rp1.000,00. Pada tahun ini utang itu baru dilunasi dengan nominal sama. Nah, padahal nilai uang sebenarnya itu sudah tidak sama. Berdasarkan PVoM, selama 10 tahun, dengan bunga pasar sekitar 7 persen (untuk Indonesia), nilai uang itu sekarang hanyalah sekitar 700 sampai 800 saja (maaf tidak mencantumkan hitungan dan ketepatan: lagi malas).

Bukankah itu sebuah kerugian materil pihak pemberi utang? Bagaimama solusinya? Misalkan pengembalian dilebihkan sesuai dengan PVoM yang setara, itu adalah riba.

Jadi?

Bunuh Diri yang Mendapat Penghormatan

Saya memilih untuk mengatakan bahwa suatu tindakan adalah bunuh diri meski banyak orang memberi penghormatan atas tindakan itu. Tindakan yang saya maksud adalah tidak melakukan satu pun tindakan (kecuali berdiam diri) ketika datang seruan agar mereka meninggalkan kawasan Merapi untuk sementara demi keselamatan. Bagaimanapun berdiam diri adalah sebuah tindakan sebagaimana tidak memilih adalah suatu pilihan dan sudah sepatutnya saya juga menghormati pilihan tindakan.



Terlepas dari kenyataan takdir bahwa Mbah Marijan telah meninggal dunia pada letusan Merapi tahun 2010, menurut saya, tindakan menetap di Merapi pada keadaan berbahaya seperti kemarin adalah sesuatu yang semestinya tidak perlu terjadi. Termasuk juga yang dilakukan oleh beberapa orang yang pada saat itu bersama Mbah Marijan; kameramen, reporter, dan warga. Dengan kata lain, saya menganggap itu sama dengan tindakan membunuh diri sendiri. Atau, setidaknya itu tindakan membiarkan diri sendiri terbunuh oleh sesuatu yang sebenarnya dapat dihindari (karera ilmu pengetahuan telah memprediksikannya).



Saat ini yang bisa dikatakan untuk para korban yang tidak mau mengungsi ke daerah aman adalah: "Memang sudah takdirnya mereka menghadap Sang Pencipta."



Mengingat bahwa alasan yang menjadi dasar pertimbanagan adalah amanah dari Sri Sultan untuk menjaga Merapi, banyak orang yang menilai itu sebagai suatu hal yang perlu apresiasi. Menurut saya, sikap itu mungkin akan tepat jika diterapkan pada keadaan lain.



(saya sudah ngantuk)

Biyung

Saat-saat seperti ini, yang ingin kulakukan adalah menelepon Biyung dan bertanya, "Apakah Biyung sedang berdoa?"

Lalu aku mendapat kepastian, "Biyung selalu berdoa untuk kalian berdua, anak-anakku."

"Ya wis takdongakna saben dina, Arum-Bruri-Arum-Bruri," ridlo Biyung.

Jika Esok Masih Ada Waktu Untukku

Jika esok masih ada waktuku untuk bangun dan menghirup udara pagi, aku ingin termasuk golongan orang-orang yang pertama berbahagia. Jika tidak, biarkan aku mengakhiri hari Selasa ini lebih dini. Meski tak ada jaminan bahwa aku masih ada di dunia ini esok hari, aku tetap telah bersiap untuk esok hari karena aku telah mengerjakan PR Mata Kuliah Perpajakan 1 (Bapak Jaka Saranta Sarwa Edy).

Betelgeuse Incident

Saya ingin punya buku ini!
*
Eh, akhirnya ada tulisanku yang 'diakui' oleh penulis lain (cepat atau lambat tulisanku yang 'diakui' akan di-publish di FB oleh orang lain). Syukurlah. Setidaknya itu cukup menambah mental dan kepercayaan diri. Selama ini tulisanku hanya bersuara di FB dan pembacanya hanya yang ikhlas membaca (atau mungkin tak sengaja membaca?). Tapi aku senang kalau ada yang suka, apalagi komentar. Terima kasih, wahai para pembaca. Beri aku masukan lewat komentar Anda agar tulisan berikutnya lebih baik lagi. Komentar yang pedas justru akan menggugah penulisnya dari keninaboboan.

Maaf untuk tulisan yang sering menjadi sangat emosional.
*
Tentang buku 'Betelgeuse Incident', baru baca sampul belakangnya saja sudah terasa adanya keterikatan. Aku juga ingin menulis buku (atau apapun) yang sejenis. Kau tahu kan maksudku?

Ada ide? Mari kita berdiskusi.

Jendela Tanpa Kaca

Kau berdiri di dalam rumah,

memandang lurus keluar

terlihat seperti dalam pigura

klop untuk pas foto

: setengah badan yang atas.


emmm...

Coba tenang sedikit,

tunjukkan wajah menarikmu

tak perlu senyum,

Ya! Sebentar-sebentar, kuabadikan

: sebuah pas foto untuk KTP.


Hey, sekarang angkat tangan kanan sampai samping telinga,

buatlah jarimu muncul dua berlambang perdamaian,

dekatkan tanda V pada pipi.

Senyuuuummm!!!

: upload jadi profile picture di FB.


Satu lagi ya?

Miringkan tubuhmu,

tangan bersedekap,

tundukan wajahmu sedikit,

pandangan tetap padaku,

lirikanmu yang paling kutunggu

: close up, boleh kucetak 4R dan kutaruh di meja belajar?

atau 1R tapi kusembunyikan di dompet?


Abed

Senin, 1 Oktober 2010, di kamar nomer 1.

Potong Pendek Lagi

1. Nama
Anehnya, di dalam buku pribadi paling rahasia sekalipun, aku takut menuliskan namamu. Takut ketahuan? Tidak kurasa. Bagaimana mungkin aku khawatir ketahuan sedangkan tempat itu begitu rahasia. Tapi memang tak perlu ditulis. Di dalam buku itu, hanya Tuhan dan aku yang tahu. Dan, Tuhan dan aku tahu tanpa aku menuliskan namamu di buku. Hanya Tuhan dan aku yang tahu, kecuali Tuhan telah memberi tahumu.

2. Memori
Bukan aku ingin melupakanmu. Hanya saja aku menyimpan namamu dalam memoriku dan akan kubuka lagi file namamu pada waktu yang belum kutentukan. Entah kapan, atau entah.

3. Ramai
Ramai, tapi rasanya aku sendiri. Mungkinkah aku sedang merindu?

4. Makan Siang
Belum, masih dhuha.

5. Bahaya
Resiko menulis yang seperti di atas adalah pembaca menganggap aku sedang mengalaminya. Padahal menjadi orang lain adalah keperluan penulis.

Tapi siang ini benar-benar bolong; ada yang menawarkan pekerjaan?

Sudah di kos Al Kausar 52

Hijauku

Memastikan, kau masih di situ
dengan mawar merah di tangan kanan
kau menampilkannya di dada kiri
hatimu (sebenarnya sih jantungmu yang di situ)

aku tak melihat hitam benderamu
tapi keadilan tersirat di garis tengah otakmu.
kuharap kau suka hijauku.


Selatan Jakarta, 17 September '10, 22.30

Potong Pendek (Shortcut)

1. Anak Ingusan
Orang tua bertemu orang tua, berkisah anak-anak mereka jaman ingusan. Sekarang, anak-anak mereka itu saling mencinta, sejak lulus SD.

2. Petang
Kawan-kawan baru atau kuno datang menyua. Kita bertepuk pundak kesederajatan: saling menghormati kepiawaian. Saat petang, SMS berdatangan.

3. Gelas
Bibir-bibir bergincu sia-sia di bibir-bibir gelas. Sayang kan? Harusnya tak perlu tersentuh. Senyum selalu mewakili kedekatan itu. Menjadikan jarak sebagai sambungan. Akhirnya, gelas jadi marun kena gincu muda.

4. Salaman
Satu-dua-tiga jangan sembarangan. Kalau tidak tahu, bahaya ada di seberang. Kalau tahu? Bahaya ada di ujung mata, lidah, telinga, dan semua kulit.

5. Percuma
Rumah-rumah menutup. Abang Tuan pergi melanglang. Icip-icip di lantai orang. Meski bukan sedarah kandungan.

6. Gratis
Silahkan diminum, mbak-mas-de!

7. Charger
Jangan dipedulikan.

Sejarah Kebumen

Sejarah Terjadinya Kabupaten Kebumen

Seperti halnya Daerah-daerah di Indonesia yang mempunyai latar belakang kultur budaya dan sejarah yang berbeda-beda, Kabupetan Kabumen memiliki sejarah tersendiri yaitu berdiri Kabupaten Kebumen dimana maksud yang dikandung untuk memberikan rasa bangga dan memiliki bagi warga masyarakat Kabupaten Kebumen yang selanjutnya dapat menumbuh kembangkan potensi-potensi yang ada sehingga dapat memajukan pembangunan di segala bidang .

Sejarah awal mulanya adanya Kebumen tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Mataram Islam. Hal ini disebabkan adanya beberapa keterkaitan peristiwa yang ada dan dialami Mataram membawa pengaruh bagi terbentuknya Kebumen yang masih didalam lingkup kerajaan Mataram. Di dalam Struktur kekuasaan Mataram lokasi kebumen termasuk di daerah Manca Negara Kulon ( wilayah Kademangan Karanglo ) dan masih dibawah Mataram.

Berdasarkan Perda Kab. Kebumen nomor 1 tahun 1990 tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten kebumen dan beberapa sumber lainnya dapat diketahui latar belakang berdirinya Kabupaten kebumen antara lain ada beberapa versi yaitu :

Versi I

Versi Pertama asal mula lahirnya Kebumen dilacak dari berdirinya Panjer . Menurut sejarahnya menurut sejarahnya, Panjer berasal dari tokoh yang bernama Ki Bagus Bodronolo.Pada waktu Sultan Agung menyerbu ke Batavia ia membantu menjadi prajurit menjadi pengawal pangan dan kemudian diangkat menjadi senopati. Ketika Panjer dijadikan menjadi kabupaten dengan bupatinya Ki Suwarno( dari Mataram ), Ki Bodronolo diangkat menjadi Ki Gede di Panjer Lembah ( Panjer Roma ) dengan gelar Ki Gede Panjer Roma I, Pengangakatan tersebut berkat jasanya menangkal serangan Belanda yang akan mendarat di Pantai Petanahan sedangkan anaknya Ki Kertosuto sebagai patihnya Bupati Suwarno.Demang Panjer Gunung, Adiknya Ki Hastrosuto membantu ayahnya di Panjer Roma, kemudian menyerahkan jabatannya kepada Ki Hastrosuto dan bergelar Ki Panjer Roma II. Tokoh ini sangat berjasa karena memberi tanah kepada Pangeran Bumidirja. yang terletak di utara Kelokan sungai Lukulo dan kemudian dijadikan padepokan yang amat terkenal. Kedatangan Kyai P Bumidirja menyebabkan kekhawatiran dan prasangka, maka dari itu beliau menyingkir ke desa Lundong sedang Ki panjer Roma II bersama Tumenggung Wongsonegoro Panjer gunung menghindar dari kejaran pihak Mataram. Sedangkan Ki Kertowongso dipaksa untuk taat kepada Mataram dan diserahi Penguasa dua Panjer, sebagai Ki Gede Panjer III yang kemudian bergelar Tumenggung Kolopaking I ( karena berjasa memberi kelapa aking pada Sunan Amangkurat I ). dari Veri I dapat disimpulkan bahwa lahirnya Kebumen mulai dari Panjer yaitu tanggal 26 Juni 1677.

Versi II

Sejarah Kabupaten Kebumen dimulai sejak Tumenggung Arung Binang I yang masa mudanya bernama JAKA SANGKRIP yang berdarah Mataram dan dititipkan kepada pamannya Demang Kutawinangun. Setelah dewasa lalu mencari ayahnya ke keraton Mataram dan setelah membuktikan keturunan Raja maka ia diangkat menjadi Mantri Gladag, kemudian sampai Bupati Nayaka dengan Gelar Hanggawangsa. setelah diambil menantu oleh Patih Surakarta kemudian diangkat menjadi Tumenggung Arung Binang I sampai dengan keturunannya yang Ke III sedangkan Arung Binang IV sampai ke VIII secara resmi menjadi Bupati Kebumen.

Versi III

Asal mula nama Kebumen adalah adanya tokoh KYAI. PANGERAN BUMIDIRJA. Beliau adalah bangsawan ulama dari Mataram, adik Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Ia dikenal sebagai penasihat raja, yang berani menyampaikan apa yang benar itu benar dan apa yang salah itu salah. Kyai P Bumidirjo sering memperingatkan raja bila sudah melanggar batas-batas keadilan dan kebenaran. Ia berpegang pada prinsip : agar raja adil dan bijaksana. Disamping itu juga ia sangat kasih dan sayang kepada rakyat kecil. Kyai P Bumidirjo memberanikan diri memperingatkan keponakannya, yaitu Sunan Amangkurat I. Karena sunan ini sudah melanggar paugeran keadilan dan bertindak keras dan kejam. Bahkan berkompromi dengan VOC (Belanda) dan memusuhi bangsawan ,ulama dan rakyatnya. Peringatan tersebut membuat kemarahan Sunan Amangkurat I dan direncanakan akan dibunuh, Karena menghalangi hukum qishos terhadap Kyai P Pekik dan keluarganya ( mertuanya sendiri ).

Untuk menghadapi hal itu, Kyai P Bumidirjo lebih baik pergi meloloskan diri dari kungkungan sunan Amangkurat I. Dalam perjalanan ia tidak memakai nama bangsawan , namun memakai nama Kyai Bumi saja.

Kyai P Bumidirjo sampai ke Panjer dan mendapat hadiah tanah di sebelah utara kelok sungai Lukulo , pada tahun 1670. Pada tahun itu juga dibangun padepokan/pondok yang kemudian dikenal dengan nama daerah Ki bumi atau Ki-Bumi-An, menjadi KEBUMEN.

Oleh karena itu bila lahirnya Kebumen diambil dari segi nama, maka versi Kyai Bumidirjo yang dapat dipakai dan mengingat latar belakang peristiwanya tanggal 26 Juni 1677.

Berdasarkan bukti-bukti sejarah bahwa Kebumen berasal dari kata Bumi, nama sebutan bagi P Kyai Bumidirjo , mendapat awalan Ke dan akhiran an yang menyatakan tempat.

Hal itu berarti Kabumen mula mula adalah tempat tinggal P Bumidirjo.

Di dalam perjalanan sejarah Indonesia pada saat dipegang Pemerintah Hindia Belanda telah terjadi pasang surut dalam pengadaan dan pelaksanaan belanja negara , keadaan demikian memuncak sampai klimaksnya sekitar tahun 1930. Salah satu perwujudan pengetatan anggaran belanja negara itu adalah penyederhanaan tata pemerintahan dengan penggabungan daerah-daerah Kabupaten (regentschaap) . Demikian pula halnya dengan Kabupaten Karanganyar dan Kebupaten Kebumen telah mengalami penggabungan menjadi satu daerah Kabupaten menjadi Kabupaten Kebumen. Surat keputusan tentang penggabungan kedua daerah ini tercatat dalam lembaran negara Hindia Belanda tahun 1935 nomor 629. Dengan ditetapkannya Surat Keputusan tersebut maka Surat Keputusan terdahulu tanggal 21 juli 1929 nomor 253 artikel nomor 121 yang berisi penetapan daerah kabupaten Kebumen dinyatakan dicabut atau tidak berlaku lagi. Ketetapan baru tersebut telah mendapat persetujuan Majelis Hindia Belanda dan Perwakilan Rakyat (Volksraad).

Sebagai akibat ditetapkannya Surat Keputusan tersebut maka luas wilayah Kabupaten Kebumen yang baru yaitu : Kutowingun , Ambal , Karanganyar dan Kebumen. Dengan demikian Surat Keputusan Gubernur Jendral De Jonge Nomor 3 tertanggal 31 Desember 1935 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1936 dan sampai saat ini tidak berubah .

Optimisme Tak Berbatas

Tulisan ini saya ambil dari sebuah blog dengan alamat http://elmabed.blogspot.com.

Tema: Mengawali Juli dengan optimisme

Bulan Juli: awal tahun ajaran, awal tengah-tahun-kedua, bagian awal dari musim panas di belahan bumi utara sana, bagian awal musim kemarau, mari bercerita tentang kita beroptimis.
Bulan-bulan lalu adalah cerita untuk hari ini, bukan untuk suatu kesedihan mengenang kepayahan masa lalu, tapi lebih untuk mengingat momen saja. Kejutan bulan lalu adalah kenyataan moral yang terungkap dan ternyata menyedihkan. Ah, saya sendiri malas menuliskan 'video porno' (apapun dan siapapun itu). Lalu mulut menghujat setelah mata melihat. Tanggapan buruk terus mengalir dan keluar dari mulut siapa saja yang menghujat (setelah melihat?). Intinya, "ternyata sebegitu buruknya moral kita". Lihat! Tulisan dalam tanda petik ada kata ganti 'kita', artinya 'saya, kamu, dia, kami, kalian, dan mereka'. Terbuktilah moral buruk kita. (lihat, saya menuliskan kata 'kita' lagi).
Kemudian, sesaat sebelum media massa memberitakan berita yang di atas, ada juga berita tentang penculikan, kebakaran, ledakan, terorisme, krisis ekonomi, kemacetan, bencana alam, penyelundupan, dan lain sebagainya. Semua itu kedengarannya negaif, atau kebanyakan dari itu bernuansa negatif. Berita memang lebih banyak meliput keburukan pemerintah, lebih sedikitnya memang liputan yang bagus untuk mengisi kekosongan episode (belaka). Mungkinkah berita itu untuk menggiring opini publik agar selalu beranggapan bahwa negeri kita adalah negeri yang buruk. Sekalipun iya, itu dari kacamata berita yang lebih banyak muncul dilayar kaca atau koran harian. (Setahu saya) Tidak ada kompetisi akademis maupun non akademis yang sudah diangkat media untuk memberi tahu masyarakatnya bahwa kita pantas berbangga dan menambah syukur. Maaf saja, bukannya ada niat khusus, tapi sepertinya IOAA II di Bandung tidak muncul di media massa, hanya di internet saja mungkin. Padahal itu adalah kompetisi skala internasional dengan kebanggaan nasionalisme. (tak perlu berpanjang lebar tentang yang satu ini). Intinya, media kurang membuat greget masyarakat untuk optimis dengan keadaan bangsanya sendiri. (untuk itulah tidak heran jika sangat jarang yang tahu bahwa sudah ada beberapa anak bangsa mendapat penghargaan First Step to Nobel Prize :khusus untuk bidang akademik)
Kembali pada tema: mengawali Juli dengan optimis. Tanda-tanda kebesaran bangsa kita sudah bukan hanya terlihat dari keberagaman suku, ras, agama, dan ciri-ciri fisik yang ada: SDA melimpah ruah, gemah ripah loh jinawi. Tanda-tanda kebesaran bangsa kita sekarang sudah bertambah, yaitu seperti: korupsi, krisis ekonomi, bencana, tindakan asusila, dll. Menurut saya, itu adalah bagian dari tanda-tanda akan dimulainya kejayaan kita. Mengapa?
Itu akan menyadarkan kita dari ke-ninabobo-an yang disebabkan oleh gemah ripah loh jinawi-nya negeri kita. Kita disadarkan oleh keadaan memilukan seperti sekarang ini, disadarkan untuk mulai menata diri menyongsong kejayaan 20 sampai 30 tahun lagi.
Kurun waktu 20 sampai 30 tahun lagi itu didasarkan pada hitungan umur para pemuda saat ini (para pembaca yang dirahmati). Ingat kata-kata 'Pemuda saat ini adalah pemimpin masa depan'.

"Layakanya sebuah kelahiran, revolusi akan memakan banyak korban dan tangis"

Akhirnya, pilihan optimis menjadi yang lebih baik daripada terus menghujat. Optimis ini bukannya sebuah keputusasaan akan kegagalan usaha memperbaiki diri, atau pasrah dengan kebejatan yang ada, tapi ini akan mengawali penghilatan dengan semangat berbeda.

"Dua puluh sampai tiga puluh tahun lagi, masihkah tulisan ini ada sebagai bukti optimisme tak berbatas ini?"

Ya, itulah tulisan yang ada di blog dengan judul blog 'Mabruri Menulis', dan subjudul blog 'Hanya Ingin Kau Tahu'. Mungkin si pemilik blog memaksudkan pikiran-pikirannya diketahui orang dengan dia menulis. Blog itu tidak ada 'ads'-nya, jadi tidak ada iklan dari Google Adsense (sehingga elmabed@gmail.com tidak bertambah $-nya). *tobat*

Luqman Berkata pada Anaknya

Diambil dari catatan harian tanggal 24 November 2009:

*****
Quote ( 04:58 WIB)
Al Qur'an Surat Luqman ayat 16
(Luqman berkata) : "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Alloh akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Alloh Maha Halus lagi Maha Mengetahui."

Membaca terjemah ayat di atas, membuatku ingat pada Hukum Newton ketiga : Aksi = - Reaksi
*****
Ayat-ayat Luqman yang berisi nasihat-nasihat untuk anaknya, sangat bagus untuk dibaca (termasuk terjemahnya) untuk anak maupun orang tua.

Huru-hara Saat Hura-hura

Huru-hara saat hura-hura: kasus apa??
Yah, begitulah seharusnya judulnya.

Adalah sebuah runtutan kejadian lintas tahun (mengikuti pergantian tahun).

Rabu, 30 Desember 2009
Terjadi kesepakatan antara Abdul Mabruri (penulis) dan Teguh Apriyanto (nama sebenarnya, mahasiswa Ilmu Komputer FMIPA UGM 2009) untuk ngengsreng (sebuah kata yang bagi mereka berarti nge-net). Kesepakatan terjadi di dunia maya, secara online; Mabruri di Aknet dan Teguh di kampus Sekolah Tinggi Ilmu konomi (STIE) Putra Bangsa.

Kamis, 31 Desember 2009
Sekitar pukul 10.00 mereka berdua, Mabruri dan Teguh, pergi ke STIE PB. Langsung saja, cerita berjalan dan belum ada hal yang menonjol yang perlu di pentas kan di stage ini.
Merasa bosan 'mengurusi'
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Mabruri menulis |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.