Lomba Menulis Essay

Lomba ini bertujuan untuk menumbuhkan (membangkitkan kembali) karakter ke-Indonesiaan yang positif, yang kini sudah banyak hilang dari jiwa masyarakatnya, meningkatkan kebanggaan & kecintaan terhadap tanah air Indonesia, membuktikan rasa bangga & cinta tanah air dengan berkontribusi nyata bagi perubahan dan kemajuan Republik Indonesia.

Tulisan bisa berupa kisah pribadi atau orang lain yang menceritakan karakter-karakter positif, pengabdian, dan kontribusi bagi negeri. Tulisan tidak harus berupa kisah-kisah heroik atau perjuangan besar dan massif. Kisah-kisah sederhana yang menceritakan nilai-nilai kejujuran, integritas, semangat berkorban, serta ketulusan yang inspiratif, bermanfaat dan berkontribusi positif bagi negeri, sangat layak Anda tuliskan! ^_^



1. Waktu Pelaksanaan Lomba:



a. Penjaringan naskah dibuka pada tanggal 29 Juni – 16 September 2011.

b. Pengumuman pemenang dilakukan pada tanggal 25 September 2011.



2. Tata Cara Perlombaan Syarat dan Ketentuan Peserta:



a. Peserta merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).

b. Peserta tidak dibatasi usia, jenis kelamin, dan tempat tinggal.

c. Tiap peserta hanya diperbolehkan mengirimkan satu naskah.

d. Tiap peserta wajib mem-posting informasi ini melalui note akun facebook-nya (bila memiliki FB) dan men-tag 20 orang temannya, atau mem-posting di blog-nya (bila memiliki blog).



Syarat dan Ketentuan Naskah:



a. Naskah yang diperlombakan merupakan naskah original, bukan saduran maupun plagiat, dan tidak pernah dikirim atau dipublikasikan di media mana pun.

b. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik (bukan bahasa alay).

c. Naskah tidak mengandung unsur pornografi, pornoaksi, bahasa vulgar, dan pertentangan SARA.

d. Naskah diketik pada kertas A4, font Times New Roman, 12 pt, spasi 1.5, justify, minimal 5000 karakter.

e. Melampirkan naskah dengan biodata yang berisi: nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, nomor identitas (KTP/SIM/ Paspor/ Kartu Pelajar/Mahasiswa), alamat lengkap, nomor telp/HP, nomor rekening yang masih berlaku, alamat FB (bila memiliki FB), alamat blog (bila memiliki blog). Boleh juga ditambahkan narasi singkat kegiatan saat ini atau prestasi yang dimiliki (optional).

f. Naskah dikirim ke alamat email: mujahidah_87@yahoo.com & nuryazidi@gmail.com, dengan format: ESSAI_NAMA PENGIRIM_JUDUL.

g. Naskah diterima oleh penyelenggara selambatnya tanggal 16 September 2011, pukul 23.00 WIB

h. Pengumuman pemenang akan disampaikan di akun facebook Asti Latifa Sofi & Mohammad Nuryazidi, page Gerakan “Aku Anak Indonesia”, serta akan dikirimkan ke alamat email masing-masing peserta pada tanggal 25 September 2011.

i. Keputusan dewan juri tidak dapat diganggu gugat.



-Hadiah-



Juara 1: Uang senilai Rp300.000,00

Juara 2: Uang senilai Rp200.000,00

Juara 3: Uang senilai Rp100.000,00

Juara Harapan 1 (sebanyak 3 orang): masing-masing akan mendapatkan bingkisan buku

Juara Harapan 2 (sebanyak 19 orang): masing-masing akan mendapatkan piagam penghargaan




* 25 naskah terpilih akan dikompilasikan menjadi satu buku yang insya Allah akan diterbitkan.

Converence Call: Minggu Pagi di Beranda Rumah

Biyung dan Rama ada di rumah di Murtirejo-Kebumen-Jawa Tengah, mbak Arum ada di Pasar Minggu-Jakarta Selatan-DKI Jakarta, dan aku ada di Pondok Aren-Tangerang Selatan-Banten, berhubungan dalam satu jaringan komunikasi udara. Entah di mana suara kami bertemu. Tapi bagiku, rasanya kami sedang duduk bersama di beranda; membicarakan nikmat pagi, musyawarah rencana ke depan, dan cara-cara menempuhnya; dengan suguhan kopi dua cangkir untuk berempat buatan biyung.

Sepasang pohon mangga di depan rumah sedang berbunga lagi. Padahal buah mangganya juga masih ada banyak yang menggantung di pohon mangga yang sebelah kiri. Pohon mangga sebelah kanan belum berbuah sejak dipangkas rapi beberapa tahun yang lalu, seolah-olah pohon itu adalah jantan. Kata Biyung, "Lebaran ini mungkin pas sedang bagus-bagusnya." Lalu mbak Arum berharap,"Nanti aku mau metik sendiri mangganya. Kan aku yang merawatnya, dulu."

Satu jam pun terasa cepat berlalu dan kurang. Namun, wejangan penutup menjadi begitu berarti untuk seminggu ke depan: disiplin, prihatin, sabar, dan tawakkal.


Oh ya. Ada salam dari Rama untuk teman-teman (Al kausar 52).

Teropong

Ketika aku rindu akan suatu tempat yang pernah kukunjungi, aku menulisnya untuk aku baca bila aku rindu lagi. Siapa tahu orang lain juga ingin tahu tempat-tempat yang pernah kukunjungi.



Ketika aku rindu akan suatu tempat yang belum pernah kukunjungi, aku membacanya dari berbagai sumber. Itu cukup menghalusinasikan diri dan membohongi diri bahwa aku pernah ke sana. Setidaknya, bila ada orang bicara tentang tempat itu, aku mempunyai sedikit bahan pembicaraan.



Ketika aku rindu akan suatu tempat yang belum tertulis, mungkin tempat itu tidak ada atau belum ada orang pergi ke sana, aku akan menulisnya dengan gambaran yang aku inginkan.



Membaca laksana meneropong. Ketika bacan itu adalah suatu tulisan deskripsi tentang suatu tempat, seolah-olah aku sedang meneropong suatu tempat yang jauh cukup dari dalam kamarku. Ketika bacaan itu adalah tulisan narasi tentang peristiwa, seolah-olah aku sedang meneropong suatu opera atau drama yang entah di mana cukup dilihat dari tempatku membaca. Hewat waktu, serasa melipat-lipat waktu.



Qoute by a friend of mine: "Ketika aku rindu padamu, aku memanjangkan 'teropong'. Mengamatimu dari jauh tanpa kau tahu."


This should be encrypted []Di beranda, ada pajangan-pajangan yang sengaja kau letakkan. Kadang lukisan diri, kadang lukisan orang lain. Tapi itu semua terpajang di dinding dan di beranda. Itu artinya kau mengijinkan orang yang lewat di depan berandamu dan melihat-lihat keindahan pemandangan yang sengaja kau sediakan. Terima kasih.[]


Saya [penulis note ini] takut terjadi salah paham dengan paragraf tepat di atas ini. Mohon mengertilah bahwa seorang penulis kadang butuh 'menjadi orang lain'.


di ruang keluarga pada malam Jumat pahing yang hening.

An Endless Chain of Heaven

Clue 1: Surga seorang anak laki-laki ada di telapak kaki ibunya.(untuk anak perempuan lihat clue 2 yang berlaku khusus ketika telah menikah)

Clue 2: Surga seorang wanita ada di telapak kaki suami. (mengertilah bahwa clue 2 ini bersamaan arti dengan 'wanita harus tunduk pada perintah suaminya selain pada perintah kemaksiatan')



Jadi, seorang anak laki-laki harus patuh pada ibunya dan ibu itu harus patuh pada suaminya. Sang suami itu harus patuh pada ibunya yang mana ibu itu juga harus patuh pada suaminya dan suami itu harus patuh pada ibunya dan ibunya harus patuh pada suaminya yang harus patuh pada ibunya yang juga ibu itu patuh pada suaminya dan......seterusnya.



Sebenarnya sih bukan 'endless chain', tetapi 'chain' ini berhenti pada 'Hawa harus patuh pada Nabi Adam a.s.'.



ruang keluarga Al Kausar 52 pada malam Jumat pahing

Potong Pendek di Rumah

[]
Nama Bayi

Susahnya memberi sebuah nama untuk bayi. Harus penuh pertimbangan. Meski bayi ini adalah sebuah tokoh dalam cerita yang sedang saya buat. Saya berusaha realistis lantaran cerita yang realis imajinatif atas dasar pengetahuan.

[]
Pengandaian

Ketidakmampuan manusia akan sesuatu membuat manusia berandai-andai akan sesuatu itu. Naasnya, Tuhan tidak suka dengan pengandaian. Jadi, mana mungkin Dia mengabulkan suatu pengandaian? Pengandaian kesannya seperti menolak takdir.

[]
Seorang Pelari

Aku bisa saja berlari 100 meter dalam 12 detik. Tapi apa itu perlu kulakukan hanya untuk mengejar cintamu?

NB: Bolt, pelari asal Jamaika peraih medali emas olimpiade untuk berbagai nomor, membutuhkan waktu kurang dari 10 detik untuk nomor lari 100 m putra. Suryo Agung, sprinter Indonesia asal Solo, masih membutuhkan waktu di atas 10,5 detik untuk jarak yang sama. Sprinter tercepat di kampus saya tahun 2010 membutuhkan waktu 12,21 detik (on the record) untuk nomor 100 m putra.

Pena (Sebuah Pameran Foto)

Kadang ketika saya berada di suatu tempat yang indah dan pada momen yang berharga, saya ingin sekali mengabadikannya dalam gambar. Misalnya ketika saya berada di dekat Pantai Carita (tidak sepenuhnya berada di pantai itu), di dermaga 3 Pelabuhan Merak, pada saat menghadiri wisuda, dan lain sebagainya. Ingin sekali saya mengabadikannya. Namun sayangnya, saya tidak memiliki kamera yang memadai; kamera digital pun tidak punya apalagi SLR.



Syukurlah akhirnya saya bisa mengabadikan momen dan tempat itu. Jadilah foto yang luar biasa bagus. Ini dia hasilnya.



*



Foto Pertama

Judul: Ingin Pergi ke Kotamu

Tempat: dermaga 3 Pelabuhan Merak

Waktu: Desember 2010



Pada foto terlihat kapal Mitra Nusantara yang baru saja menjauh dari dermaga 3 Pelabuhan Merak. Kapal bergerak menjauh sehingga yang tampak adalah bagian belakangnya. Masih terlihat jelas para penumpang yang duduk di dok paling atas, ada yang di bawah atap perahu, ada juga yang meminggir di pagar-pagar, dan juga di samping tempat parkir mobil di dok itu.



Posisi gambar kapal di foto itu ada di bagian kanan sedang dikiri foto ada karang yang terlihat hampir kotak. Jalur kapal ada di sisi kanan untuk menghindari karang itu. Air mengalun lembut sampai di tepian foto bawah dan di ujung pandangan adalah garis perspektif foto yang sengaja saya letakkan pada posisi tengah. Dengan begitu, laut dan langit mempunyai porsi yang sama untuk dilihat. Itu sengaja saya lakukan agar langit yang cerah dan laut yang lembut memberi kontribusi yang sama dalam keindahan foto saya.



Tidak ada objek yang saya fokuskan karena saya ingin membuat foto yang seolah-olah mewakili suasana hati saya. Saya sedang memandang jauh, ke utara, ada Pelabuhan Bakauheni yang tak terlihat di sana. Bakauheni adalah pintu gerbang Propinsi Lampung, termasuk salah satu pintu menuju Sumatera, via kapal laut. Dan, saya ingin pergi ke kotamu.



Foto kedua

Judul: Dirimu Bukan Putri Dhomas

Tempat: Kawah Dhomas-Tangkuban Perahu

Waktu: November 200X



Hujan. Asap dari beberapa kubangan air belerang tetap naik ke atas meski air hujan turun ke bawah. Mungkin air hujan tidak sempat memberi tahu bahwa di atas angin mulai ribut dan asap tidak sempat memberi tahu kalau di bawah terlalu banyak belerang yang akan menyampuri air hujan yang suci.



Kau juga naik, meninggalkan Kawah Dhomas. Sedang aku turun, menuju kawah Dhomas bersama dua penguasa kawah ('dho'; artinya 'dua'). Aku turun dan kau naik karena tidak saling memberi tahu, lebih tepatnya tidak bisa berkomunikasi



Hingga yang tampak dalam foto hanya hujan, asap, dan batu-batu sebagai latar belakang. Ada sedikit ranting pohon berdaun jarang yang menyusup foto di sebelah kanan . Kiri-kanan foto itu di bingkai oleh bambu-bambu yang menjadi tiang penyangga warung di mana saya mengambil gambar. Sedang bingkai atas-bawah adalah atap warung dan pagar warung yang juga terbuat dari bambu.



Kurasa foto saya ini juga hebat. Tetap tak ada yang difokuskan karena yang harusnya menjadi model adalah dirimu.



Foto Ketiga

Judul: Kereta Terbang

Tempat: Bumiayu

Waktu: mudik kelima, Desember 2010



Kereta telah memberi cacatan tersendiri sejak sejarah masa kecil saya. Selama mudik dari ibu kota, samapi saat ini, hanya kereta yang saya gunakan. Begitu juga dengan berangkatnya. Pemandangan yang akan dilalui bila menggunakan jalur Cirebon-Purwokerto (perpindahan dari pantura ke jalur selatan) yang paling indah akan berada di daerah Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah. Di situ, ketika kereta melintasi jembatan yang menghubungkan dua bukit, uuuhhh luar biasa pemandangannya. Dan, saya merasa terbang karena tidak bisa melihat daratannya. Keretanya berada di atas rata-rata pepohonan di situ.



Tapi, berkat kecanggihan kamera saya, foto yang dihasilkan bukan pemandang dari atas kereta. Tapi sebaliknya. Kereta tepat sekali berada di atas jembatan di antara dua bukit. Sekitar pukul dua siang, langit cerah seperti biasa. Teknik pengambilan foto tentu saja 'frog eye'atau mata katak karena objek yang saya ambil ada di atas (pengabadi momen ada di bawah, kaki bukit). Bagian bawah foto relatif banyak berwarna hijau pepohonan sedang bagian atas warna biru langit. Di antara keduanya itulah kereta berada.



Kereta itu terbang.



*

Alhamdulillah, kamera yang saya gunakan tidak mahal tetapi luar biasa canggih. Harganya hanya Rp2.000,00 dan saya beli di tempat fotokopian di Kalimongso. Keunggulan kamera saya ini adalah bisa menggambar objek di masa lalu (foto kedua), memotret perasaan yang ada di hati (foto pertama), dan menggambar objek dari sudut pandang orang lain sehingga seolah-olah kamera saya bisa berada di manapun (foto ketiga).



Terima kasih telah datang ke Pameran Foto "Pena" karena kamera yang saya gunakan adalah 'bolpoin' dan foto dicetak pada kertas folio bergaris.

Surga yang Hilang

C103: Kuliah Ekonomi Makro



Surga yang Hilang



Pagi hari di pekarangan rumah:

Burung-burung manyar di pohon-pohon nyiur,

Bernyanyi tentang keindahan dan pujian

Kupu-kupu di bunga-bunga madu,

Mereka saling membantu dalam kesejahteraan

Cacing-cacing di dalam tanah lembab,

Siapa yang mengira mereka sedang bermesraan?



Siang hari di sawah-sawah:

Angin, hijau, panas semilir

Gubuk-gubuk peristirahatan menjadi tempat bersandar

Setelah rantang disantap bersama siang

Dan sawah-sawah dicangkul subur



Sore hari di Kali Tapak Ular;

Anak-anak bermain air: mandi

Ibu-ibu mengambil cucian kering

Ayah-ayah mengamati mereka di antara asap-asap rokok

Air bahagia karena dikunjungi

Angin tak merana menjadi nafas



Malam hari di pemondokan;

Lamat-lamat suara bersahutan

Dari rumah ayat-ayat dibacakan

Dari pekarangan, kunang-kunang berusaha menajawab

Lewat cahayanya yang kedap-kedip

Dari kali, kodok mengaminkan



tapi cacing tertawa dengan semua kebohongan ini, keesokan harinya.



Selesai di C204: Accounting Information System



Menurut Adam Smith dan Malthus, salah satu akibat yang terjadi dari pertumbuhan ekonomi adalah surga yang hilang.



Diambil dari halaman Book of Abdullah yang bertanggal 22 Januari 2011

Lelaki yang Membelah Bulan

Ceritakan padaku tentang lelaki yang kau idamkan, sayang!



Kau jawab: lelaki yang membelah bulan.



Aku bertanya lagi: Siapa itu, sayang?



Telah diceritakan di dalam kitab yang tiada keraguan di dalamnya bahwa pada suatu waktu bulan pernah sekali dibelah oleh seorang lelaki.Lelaki itu adalah lelaki yang bercahaya, lelaki yang wangi, lelaki yang terpercaya, lelaki yang tersenyum.



Aku cemberut, lalu bertanya lagi: apa kau menyukainya?



Kau jawab: setiap wanita harusnya cinta padanya, setiap lelaki juga semestinya begitu. Bahkan semesta alam mencintainya, seharusnya. Sekarang, aku yang bertanya: apa kau juga termasuk golongan lelaki yang mencintainya? Atau justru cemburu padanya?



Aku jawab: ada perbedaan pengertian yang seharusnya tidak kupermasalahkan (antara cinta dan cemburu; sebagai lelaki). Aku mencintainya sebagaimana seharusnya seluruh alam mencintainya.



Diambil dari Book of Abdullah pada halaman yang bertanggal 8 Desember 2010.

*

Siapakah lelaki yang membelah bulan? Carilah pada kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya.

I Need Your Help, Mama

Mama, get up from your nightmare about the only one boy of yours! I need your help! Please, Mama, pray for me (and so do us)! Pray, Mama, pray! What a thanks!!!

Tentang Serat Centhini

Apa yang Anda pikirkan melihat judul ini?

Saya berprasangka bahwa Anda berkeinginan untuk membacanya (beberapa
saya tahu alasannya). Sebelum saya menulis tentang Serat Centhini,
perkenankan terlebih dulu saya katakan bahwa bukan hanya Anda yang
membaca catatan saya secara sembunyi-sembunyi. Maksud saya, beberapa
teman saya di Facebook (pasti Anda salah satu teman saya) berlangganan
membaca catatan saya tanpa meninggalkan bekas berupa like atau
comment.

Oke. Mari saya mulai.

Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambangraras atau Suluk
Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar
dalam kesusastraan Jawa Baru. Sering orang menjustifikasi karya ini
sebagai pornografi dan vulgar. Ketika orang menyebut nama itu, yang
terbayang di kepala si pendengar adalah seks, vulgar, perempuan,
gundik, atau semacamnya. Padahal tidak begitu kenyataannya. Serat
Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa,
agar tidak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Serat Centhini
disampaikan dalam bentuk tembang, dan penulisannya dikelompokkan
menurut jenis lagunya.

Sepintas saya sudah membacanya. Hanya sekilas saja karena keterbatasan
waktu (saya membacanya sambil berdiri di antara rak-rak yang ada di
Toko Buku Gramedia). Kebetulan saya sengaja mengambil sampel bacaan di
bagian tengah buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
itu. Saya temukan pesan yang bagus yang disajikan Serat Centhini itu.

Pada bagian-yang-memang-saya-ingin-baca-itu, kebetulan bercerita
tentang pernikahan Amongraga dan Tambangraras. Amongraga adalah
seorang laki-laki muslim yang menikahi Tambangraras yang seorang
muallaf. Sedangkan tokoh Centhini saya tangkap sebagai seorang yang
dekat dengan Tambangraras yang menemani Tambangraras dalam beradaptasi
dengan keluarga Amongraga (mungkin hubungan keduanya seperti bayi dan
baby sitter-nya).

Diceritakan bahwa Centhini mengetahui banyak hal ikhwal malam-malam
yang dijalani pasangan pengantin baru itu. Tentu, sebagai karya sastra
yang bentuknya tembang (lagu) tidak berorientasi pada deskripsi.
(Sehingga bila ada pertanyaan, "Bagaimana bisa kegiatan yang intim dan
rahasia tentang malam-malam pertama diketahui oleh orang ketiga secara
langsung?", jawabannya adalah, "Saya tidak tahu. Namanya juga
sastra.")

Pada malam yang pertama, Amongraga hendak menuju rumahnya. Dia mampir
dulu ke masjid untuk menunaikan sholat sunat beberapa rakaat. Lalu
menuju rumah. Sampai di rumah, orang tuanya menyuruhnya berlaku
sebagai mana para penganten baru (Anda maksud dengan apa yang saya
tulis bukan? Jangan paksa saya menulis terlalu gamblang tentang itu).
Amongraga memasuki kamar pengantin dan Tambangraras ada di ujung
ranjang. Amongraga duduk di ujung satunya dan mereka berhadapan.
Jangan dikira keduanya 'berperang' seperti yang biasanya. Amongraga
mengajarkan pada Tambangraras tentang ketahuhidan dan persaksian akan
Tuhan (Alloh SWT). Dan, sampai pagi menjelang status Tambangraras
masih gadis perawan (kau tahu kan kalau ada gadis yang tidak
perawan?).

Malam-pertama yang kedua Amongraga duduk di ujung ranjang dan
Tambangraras di ujung satunya dan keduanya (seingat saya) sudah mulai
tidak menenakan pakaian. Malam-pertama yang kedua ini Amongraga
mengajarkan tentang Keimanan dan Keislaman (Rukun Iman dan Rukun
Islam) dan merinci bagaimana manusia beribadah kepada Tuhan (sholat)
.Dan sampai fajar tidak terjadi persentuhan di antara keduanya.

Malam-malam-pertama selanjutnya adalah suami yang mengajarkan agama
kepada pasangannya (diceritakan dalam buku itu bahwa mereka
melakukannya di atas ranjang, berhadapan dari ujung ke ujung, dalam
telanjang). Barulah pada malam yang keempat puluh satu terjadi apa
yang biasa disebut malam pertama. Paginya, ibu Amongraga membuatkan
jamu tradisional untuk kesehatan proses selanjutnya.

Pagi hari berikutnya, sebelum subuh dan sebelum Tambangraras bangun,
Amongraga pergi untuk mencari saudaranya yang hilang.

Maksud hati saya menulis ini salah satunya adalah 'sang suami yang
melaksanakan kewajibannya mengajarkan agama sebelum dia meminta
haknya'.

[memang sih, dengan sepintas pandang akan terasa kevulgarannya. Oh eh,
bukannya ilmu biologi yang membahas reproduksi juga harus tetap
diajarkan dengan atau tidak dengan ke-tabu-annya?]

Al Kausar 52, kamar no 1, meja belajar, 15 Januari 2011, 22.25

Seseorang Menulis untuk Saya

Seseorang menulis untukku

Jika kau tak bisa bicara yang baik, diamlah!

Atau jika kau tak bisa menulis baik, belajarlah menulis baik!

Ingin aku mengingatkan padamu bahwa jam wekermu bernyanyi-nyanyi
membangunkan sang empunya; tepat pada waktu yang kau kehendaki.
Sebenarnya aku merasa bising dengan suara nada-tinggi-alarm, jadi aku
ingin menyuruhmu mematikannya. Malas banget kalau aku disuruh
mematikannya,t oh aku punya alarm sendiri.

Ingin aku berdiskusi denganmu, atau membawamu berdiskusi dengan orang
yang banyak tahu, karena kita berbeda pendapat. Aku lebih suka tidak
puasa agar siangnya tidak terlalu banyak tidur dan tak ada waktu-waktu
sholat berjamaah yang terlewat. Kamu berpendapat, senin dan kamis itu
saat malaikat melaporkan amalan-amalan harian manusia dan kamu ingin
laporan itu ditutup saat kamu berpuasa. Meski dengan itu jam tidurmu
menjadi banyak, juga sering membuatmu sholat sendirian. Sebenarnya,
masing-masing dari kita sudah tahu apa yang lebih baik dilakukan.

Ketika kemudahan semakin dekat dengan manusia, hal instan itulah yang
kebanyakan dipilih. Cukup menyalakan TV, kau dengar ceramah. Itu baik,
tapi aku ingin mengajakmu berjalan jauh untuk bertemu manusia nyata di
hadapan para jamaah. Meski tak banyak yang bisa dibawa pulang,
cukuplah membawa yang sedikit itu dan buru-buru mengamalkannya.

Tapi aku ingin diam, bukan berarti tidak jadi mengingatkanmu atau
mengajakmu. Sebaiknya kutulis saja ajakanku karena bila suatu saat
nanti kau mau, aku masih berstatus mengajakmu.

Mencoba

Mencoba menambah ilmu dengan mencoba

Maaf dan Terima Kasih

Saya memohon maaf atas semua salah saya kepada siapa saja baik yang merasa saya dzolimi ataupun yang tidak merasa. Terima kasih atas doa-doanya. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang didengar doanya lagi orang-orang yang beruntung.

Kereta dan Waktu Sholat

Kereta telah memberi warna tersendiri bagi saya pribadi; warna hitam, putih, dan di antara keduanya. Tapi bukan itu yang akan saya tulis. Adalah pentingnya mengetahui jadwal kereta sebelum kita memilih waktu pulang, kelas kereta (tarif), dan tujuan akhir agar tidak menghilangkan waktu sholat kita. Ayo kita lihat jadwalnya, khusus untuk kelas ekonomi (maklum, ini kelas yang menjadi selera rakyat).



1. Kereta Kutojaya Utara (Tanah Abang-Kutoarjo)

Kelas: ekonomi

Tujuan Akhir: Kutoarjo

Stasiun dan Jam keberangkatan: St.Tanah Abang pukul 07.00 WIB

Stasiun dan Jam kedatangan: St Kutoarjo pukul 14.36 WIB (ingat, ini jam 'jadwal', bukan realisasi)

Berdasarkan pengalaman penulis, jam kedatangan selalu mengalami keterlambatan. Tapi untuk hari-hari biasa, kereta Kutojaya Utara sudah sampai di stasiun Kutoarjo sebelum magrib karena pukul 18.00 sudah harus berangkat lagi ke Jakarta. Jadi, para penumpang masih bisa sholat jamak ta'khir di stasiun paling akhir sekalipun.

Sebuah keistimewaan bagi daerah bernama Kebumen: kehilangan waktu sholat karena melakukan perjalanan menggunakan kereta dapat dihindari.



2. Kereta Progo (Pasar Senen-Lempuyangan)

Kelas: ekonomi

Stasiun dan Jam Keberangkatan: St Pasar Senen pukul 21.00 WIB

Stasiun dan Jam Kedatangan: St Lempuyangan-Jogjakarta pukul 04.13 WIB (saya ingatkan lagi bahwa ini jam kedatangan menurut jadwal, bukan realisasinya).

Kenyataanya, kereta Progo melewati St Kebumen saja matahari sudah atau sedang terbit. Jadi, apa kabar subuh Anda? Tentu harus dilakukan di dalam kereta. Atau, ada alternatif lain, yaitu melakukan sholat subuh di stasiun besar di mana biasanya kereta api berhenti lama. Contoh stasiun yang biasanya menjadi tempat pemberhentian dengan waktu cukup untuk sholat adalah Cirebon, Prupuk, Purwokerto.



3. Gaya Baru Malam Selatan (Jakarta Kota-Surabaya Gubeng)

Kelas: ekonomi

Stasiun dan Jam Keberangkatan: St Jakarta Kota pukul 12.00 WIB

Stasiun dan Jam Kedatangan: St Gubeng-Surabaya pukul 18.30 WIB hari berikutnya.

Apa kabarnya waktu sholat kita? Saya sendiri hanya sekali menggunakan kereta ini. Itu pun saya naik di St Jatinegara (bisa menjamak ta'dim untuk dzuhur dan ashar di st ini) dan hanya sampai di St Prupuk. Waktu itu di St Prupuk, Kabupaten Tegal sedang senja, maghrib. Kalau sampai Kebumen? Masih bisa jamak ta'khir untuk Maghrib dan Isya karena waktu tempuh hanya sekitar 5 jam atau pukul 23.00 sampai di Kebumen. Kalau sampai Jogja? Surabaya? Saya belum tahu tuh. Coba tanya teman yang melakukan perjalanan sampai sana. Seharusnya sih, ada sholat berjamaah di dalam kereta :d.



Wah, udah dulu ya.

Semoga bermanfaat.
[to be continued, semoga]


12.03

Rumah Pulang

Rumah Pulang
Oleh Abdullah Mabruri
#Mencari Rumah Pulang
“Mas, numpang tanya. Kampung Lima Puluh Dua di mana ya?”
“Siapa Lo nanya-nanya? Lo pikir lo lagi di mana? Ya ini satu-satunya kampung yang namanya Lima Puluh Dua!!!” salah satu dari sekumpulan pemuda menjawab. Mereka tengah kongkow-kongkow di gardu pinggir jalan. Empat orang membentuk lingkaran dan masing-masing memegang beberapa kartu. Ada yang duduk di pinggiran menghisap kretek. Dan sisanya tiduran sambil memainkan telepon genggamnya. Beberapa di antara mereka masih kecil, mungkin masih SD kelas V atau VI.
“Maaf, mas. Memang saya kira ini kampung saya yang sepuluh tahun lalu saya tinggalkan. Tapi saya merasa aneh dengan ketidakhadiran sawah-sawah yang dulu pernah menyejahterakan orang-orang tua kita. Sekarang sawah-sawah di mana ya?
“Apa peduli Lo? Udah dijual buat bayar utang. Percuma juga ditanami, lahannya udah kagak subur. Sekarang dibangun gedung-gedung itu,” yang lain menimpali.
“Oh, begitu ya. Terima kasih atas informasinya. Mari.”
Kutinggalkan gardu beserta para pemuda yang sedang asik bermain domino dengan iringan lagu-lagu pop masa kini. Sekarang kampungku sudah maju, mungkin semua orang telah memiliki telepon genggam. Sepuluh tahun yang lalu, bahkan, untuk menonton Mike Tyson menggigit telinga Holifil di TV saja harus berjejal di rumah Pak Lurah. Dan, para penonton sudah berdatangan sejak pagi buta.
#Memori
Aku berjalan, mencoba menebak-nebak setiap perubahan penampilan lingkungan sekitar. Mengira-ira dan mencocokkannya dengan memori sepuluh tahun yang silam. Tapi pembicaraan dengan pemuda tadi masih menyisakan tanya: apa pemuda tadi berbohong?
Rasanya, bahasa terakhir yang kuucapkan ketika aku meninggalkan kampung tidak seperti bahasa yang kudengar dari pemuda tadi. Mungkinkah ini bukan kampungku? Dan, orang-orang yang dulu mengantar kepergianku hendak ke rantau tidak pernah menunjukkan kekerasan dalam berbahasa. Benar, kenangan terakhir yang kuingat tidaklah seperti kenyataan yang ada di hadapanku sekarang. Tapi, untuk sedikit membuatku tenang, aku beranggapan bahwa perubahan adalah suatu kewajaran, dan abadi. Meski, bila aku menilai perubahan itu secara kuantitatif, persamaan perubahannya pastilah ada variabel eksponensial-lebih-dari-satu.
Aku ingat teman-teman bermain waktu kecil dulu begitu lucu dan lugu. Dengan permainan sederhana berupa panggal, layang-layang, yoyo dari kayu, dan ketapel, kami bermain begitu aktif. Sekarang, di kampung ini, sepertinya anak-anak lebih banyak duduk dan bermain play station di ruko-ruko yang dibangun di atas bekas sawah-sawah warga itu. Sepulang dari bosan bermain PS, beberapa anak-anak turut berkumpul di gardu pinggir jalan dan mulai belajar bersiul jika ada gadis berlalu. Anak-anak sudah beranjak dewasa. Maksudku, lebih dewasa dari umurnya.
#Masih Mencari Pertanda
Sampai di manakah aku akan berusaha mencocokkan keadaan sepuluh tahun yang lampau dengan keadaan sekarang? Aku lelah mencari pertanda bahwa aku tidak salah pulang kampung. Aku butuh istirahat. Siang begitu panas karena terlalu sedikit pohon-pohon peneduh—kebanyakan rumah menanam tanaman hias yang sama sekali tak banyak berguna kecuali warnanya yang indah. Tapi aku tidak ingin mencoba minta keteduhan dari rumah orang. Aku tak yakin akan terkabul permintaan singgahku dengan tatusku yang orang asing, tak dikenal.
Kebetulan sebentar lagi lohor. Lebih baik nanti kurebahkan tubuh ini di tempat yang tidak di miliki oleh siapa pun orang—atau justru orang-orang merasa bahwa tempat itu milik bersama. Aku mencoba mencari bangunan berpucuk bulan-bintang. Ada banyak, dan megah sepertinya. Kutunggu barang satu-dua orang untuk ibadah bersama. Hingga kantuk mulai menghampiri, hanya nihil yang tampak, alias tidak ada seorang pun datang. Ke mana orang-orang? Ah, mungkin orang-orang sedang sibuk atau lebih memilih berjamaah di rumah bersama keluarga di siang panas ini dan baru nanti magrib surau ini akan ramai. Sekarang kutunaikan kewajibanku sendiri lalu istirahat menungggu ashar dan sore.
Tapi senja begitu sepi, di sini. Hanya orang-orang tua penanti ajal yang datang—itu saja setelah kuteriakkan panggilan. Anak-anak kecil tidak ada. Mungkin di rumah masing-masing. Tapi tetap saja tidak kudengar suara lamat-lamat orang mengaji. Ternyata banyak kutemui kepulan asap di gardu-gardu ronda yang berbau alkohol. Dan amis.
#Ujung Jalan
Aku masih berjalan hingga ujung kampung. Masih berharap inilah kampung halamanku. Dan, aku tidak salah dengan harapan itu karena kutemukan kesamaan getar bumi yang kupijak dengan degup jantungku. Ini adalah kampungku yang sepuluh tahun kutinggal merantau; meski aku dilahirkan tanpa tempat tinggal. Yang artinya aku lahir di kampung ini di mana tak satu pun dari rumah yang berdiri adalah rumahku, karena satu jam setelah kelahiran, aku berstatus yatim piatu dan miskin.
#Kembali Pulang
Tapi aku menyesal atas kepergianku yang begitu lama. Atas nama ilmu aku pergi ke rantau. Lalu, atas nama pengamalan ilmu aku bertahan di rantau. Atas nama kebahagian, aku menikmati kebersamaan dengan kawan serantauan. Tapi aku lupa, atas nama pengabdian, harusnya aku pulang lebih cepat. Lalu sedikit demi sedikit aku membangun kampung sebagai pengabdian.
Murtirejo, 30 Desember 2010
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Mabruri menulis |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.