Tentang Serat Centhini

Apa yang Anda pikirkan melihat judul ini?

Saya berprasangka bahwa Anda berkeinginan untuk membacanya (beberapa
saya tahu alasannya). Sebelum saya menulis tentang Serat Centhini,
perkenankan terlebih dulu saya katakan bahwa bukan hanya Anda yang
membaca catatan saya secara sembunyi-sembunyi. Maksud saya, beberapa
teman saya di Facebook (pasti Anda salah satu teman saya) berlangganan
membaca catatan saya tanpa meninggalkan bekas berupa like atau
comment.

Oke. Mari saya mulai.

Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambangraras atau Suluk
Tambangraras-Amongraga, merupakan salah satu karya sastra terbesar
dalam kesusastraan Jawa Baru. Sering orang menjustifikasi karya ini
sebagai pornografi dan vulgar. Ketika orang menyebut nama itu, yang
terbayang di kepala si pendengar adalah seks, vulgar, perempuan,
gundik, atau semacamnya. Padahal tidak begitu kenyataannya. Serat
Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa,
agar tidak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Serat Centhini
disampaikan dalam bentuk tembang, dan penulisannya dikelompokkan
menurut jenis lagunya.

Sepintas saya sudah membacanya. Hanya sekilas saja karena keterbatasan
waktu (saya membacanya sambil berdiri di antara rak-rak yang ada di
Toko Buku Gramedia). Kebetulan saya sengaja mengambil sampel bacaan di
bagian tengah buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
itu. Saya temukan pesan yang bagus yang disajikan Serat Centhini itu.

Pada bagian-yang-memang-saya-ingin-baca-itu, kebetulan bercerita
tentang pernikahan Amongraga dan Tambangraras. Amongraga adalah
seorang laki-laki muslim yang menikahi Tambangraras yang seorang
muallaf. Sedangkan tokoh Centhini saya tangkap sebagai seorang yang
dekat dengan Tambangraras yang menemani Tambangraras dalam beradaptasi
dengan keluarga Amongraga (mungkin hubungan keduanya seperti bayi dan
baby sitter-nya).

Diceritakan bahwa Centhini mengetahui banyak hal ikhwal malam-malam
yang dijalani pasangan pengantin baru itu. Tentu, sebagai karya sastra
yang bentuknya tembang (lagu) tidak berorientasi pada deskripsi.
(Sehingga bila ada pertanyaan, "Bagaimana bisa kegiatan yang intim dan
rahasia tentang malam-malam pertama diketahui oleh orang ketiga secara
langsung?", jawabannya adalah, "Saya tidak tahu. Namanya juga
sastra.")

Pada malam yang pertama, Amongraga hendak menuju rumahnya. Dia mampir
dulu ke masjid untuk menunaikan sholat sunat beberapa rakaat. Lalu
menuju rumah. Sampai di rumah, orang tuanya menyuruhnya berlaku
sebagai mana para penganten baru (Anda maksud dengan apa yang saya
tulis bukan? Jangan paksa saya menulis terlalu gamblang tentang itu).
Amongraga memasuki kamar pengantin dan Tambangraras ada di ujung
ranjang. Amongraga duduk di ujung satunya dan mereka berhadapan.
Jangan dikira keduanya 'berperang' seperti yang biasanya. Amongraga
mengajarkan pada Tambangraras tentang ketahuhidan dan persaksian akan
Tuhan (Alloh SWT). Dan, sampai pagi menjelang status Tambangraras
masih gadis perawan (kau tahu kan kalau ada gadis yang tidak
perawan?).

Malam-pertama yang kedua Amongraga duduk di ujung ranjang dan
Tambangraras di ujung satunya dan keduanya (seingat saya) sudah mulai
tidak menenakan pakaian. Malam-pertama yang kedua ini Amongraga
mengajarkan tentang Keimanan dan Keislaman (Rukun Iman dan Rukun
Islam) dan merinci bagaimana manusia beribadah kepada Tuhan (sholat)
.Dan sampai fajar tidak terjadi persentuhan di antara keduanya.

Malam-malam-pertama selanjutnya adalah suami yang mengajarkan agama
kepada pasangannya (diceritakan dalam buku itu bahwa mereka
melakukannya di atas ranjang, berhadapan dari ujung ke ujung, dalam
telanjang). Barulah pada malam yang keempat puluh satu terjadi apa
yang biasa disebut malam pertama. Paginya, ibu Amongraga membuatkan
jamu tradisional untuk kesehatan proses selanjutnya.

Pagi hari berikutnya, sebelum subuh dan sebelum Tambangraras bangun,
Amongraga pergi untuk mencari saudaranya yang hilang.

Maksud hati saya menulis ini salah satunya adalah 'sang suami yang
melaksanakan kewajibannya mengajarkan agama sebelum dia meminta
haknya'.

[memang sih, dengan sepintas pandang akan terasa kevulgarannya. Oh eh,
bukannya ilmu biologi yang membahas reproduksi juga harus tetap
diajarkan dengan atau tidak dengan ke-tabu-annya?]

Al Kausar 52, kamar no 1, meja belajar, 15 Januari 2011, 22.25

Seseorang Menulis untuk Saya

Seseorang menulis untukku

Jika kau tak bisa bicara yang baik, diamlah!

Atau jika kau tak bisa menulis baik, belajarlah menulis baik!

Ingin aku mengingatkan padamu bahwa jam wekermu bernyanyi-nyanyi
membangunkan sang empunya; tepat pada waktu yang kau kehendaki.
Sebenarnya aku merasa bising dengan suara nada-tinggi-alarm, jadi aku
ingin menyuruhmu mematikannya. Malas banget kalau aku disuruh
mematikannya,t oh aku punya alarm sendiri.

Ingin aku berdiskusi denganmu, atau membawamu berdiskusi dengan orang
yang banyak tahu, karena kita berbeda pendapat. Aku lebih suka tidak
puasa agar siangnya tidak terlalu banyak tidur dan tak ada waktu-waktu
sholat berjamaah yang terlewat. Kamu berpendapat, senin dan kamis itu
saat malaikat melaporkan amalan-amalan harian manusia dan kamu ingin
laporan itu ditutup saat kamu berpuasa. Meski dengan itu jam tidurmu
menjadi banyak, juga sering membuatmu sholat sendirian. Sebenarnya,
masing-masing dari kita sudah tahu apa yang lebih baik dilakukan.

Ketika kemudahan semakin dekat dengan manusia, hal instan itulah yang
kebanyakan dipilih. Cukup menyalakan TV, kau dengar ceramah. Itu baik,
tapi aku ingin mengajakmu berjalan jauh untuk bertemu manusia nyata di
hadapan para jamaah. Meski tak banyak yang bisa dibawa pulang,
cukuplah membawa yang sedikit itu dan buru-buru mengamalkannya.

Tapi aku ingin diam, bukan berarti tidak jadi mengingatkanmu atau
mengajakmu. Sebaiknya kutulis saja ajakanku karena bila suatu saat
nanti kau mau, aku masih berstatus mengajakmu.

Mencoba

Mencoba menambah ilmu dengan mencoba

Maaf dan Terima Kasih

Saya memohon maaf atas semua salah saya kepada siapa saja baik yang merasa saya dzolimi ataupun yang tidak merasa. Terima kasih atas doa-doanya. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang didengar doanya lagi orang-orang yang beruntung.

Kereta dan Waktu Sholat

Kereta telah memberi warna tersendiri bagi saya pribadi; warna hitam, putih, dan di antara keduanya. Tapi bukan itu yang akan saya tulis. Adalah pentingnya mengetahui jadwal kereta sebelum kita memilih waktu pulang, kelas kereta (tarif), dan tujuan akhir agar tidak menghilangkan waktu sholat kita. Ayo kita lihat jadwalnya, khusus untuk kelas ekonomi (maklum, ini kelas yang menjadi selera rakyat).



1. Kereta Kutojaya Utara (Tanah Abang-Kutoarjo)

Kelas: ekonomi

Tujuan Akhir: Kutoarjo

Stasiun dan Jam keberangkatan: St.Tanah Abang pukul 07.00 WIB

Stasiun dan Jam kedatangan: St Kutoarjo pukul 14.36 WIB (ingat, ini jam 'jadwal', bukan realisasi)

Berdasarkan pengalaman penulis, jam kedatangan selalu mengalami keterlambatan. Tapi untuk hari-hari biasa, kereta Kutojaya Utara sudah sampai di stasiun Kutoarjo sebelum magrib karena pukul 18.00 sudah harus berangkat lagi ke Jakarta. Jadi, para penumpang masih bisa sholat jamak ta'khir di stasiun paling akhir sekalipun.

Sebuah keistimewaan bagi daerah bernama Kebumen: kehilangan waktu sholat karena melakukan perjalanan menggunakan kereta dapat dihindari.



2. Kereta Progo (Pasar Senen-Lempuyangan)

Kelas: ekonomi

Stasiun dan Jam Keberangkatan: St Pasar Senen pukul 21.00 WIB

Stasiun dan Jam Kedatangan: St Lempuyangan-Jogjakarta pukul 04.13 WIB (saya ingatkan lagi bahwa ini jam kedatangan menurut jadwal, bukan realisasinya).

Kenyataanya, kereta Progo melewati St Kebumen saja matahari sudah atau sedang terbit. Jadi, apa kabar subuh Anda? Tentu harus dilakukan di dalam kereta. Atau, ada alternatif lain, yaitu melakukan sholat subuh di stasiun besar di mana biasanya kereta api berhenti lama. Contoh stasiun yang biasanya menjadi tempat pemberhentian dengan waktu cukup untuk sholat adalah Cirebon, Prupuk, Purwokerto.



3. Gaya Baru Malam Selatan (Jakarta Kota-Surabaya Gubeng)

Kelas: ekonomi

Stasiun dan Jam Keberangkatan: St Jakarta Kota pukul 12.00 WIB

Stasiun dan Jam Kedatangan: St Gubeng-Surabaya pukul 18.30 WIB hari berikutnya.

Apa kabarnya waktu sholat kita? Saya sendiri hanya sekali menggunakan kereta ini. Itu pun saya naik di St Jatinegara (bisa menjamak ta'dim untuk dzuhur dan ashar di st ini) dan hanya sampai di St Prupuk. Waktu itu di St Prupuk, Kabupaten Tegal sedang senja, maghrib. Kalau sampai Kebumen? Masih bisa jamak ta'khir untuk Maghrib dan Isya karena waktu tempuh hanya sekitar 5 jam atau pukul 23.00 sampai di Kebumen. Kalau sampai Jogja? Surabaya? Saya belum tahu tuh. Coba tanya teman yang melakukan perjalanan sampai sana. Seharusnya sih, ada sholat berjamaah di dalam kereta :d.



Wah, udah dulu ya.

Semoga bermanfaat.
[to be continued, semoga]


12.03

Rumah Pulang

Rumah Pulang
Oleh Abdullah Mabruri
#Mencari Rumah Pulang
“Mas, numpang tanya. Kampung Lima Puluh Dua di mana ya?”
“Siapa Lo nanya-nanya? Lo pikir lo lagi di mana? Ya ini satu-satunya kampung yang namanya Lima Puluh Dua!!!” salah satu dari sekumpulan pemuda menjawab. Mereka tengah kongkow-kongkow di gardu pinggir jalan. Empat orang membentuk lingkaran dan masing-masing memegang beberapa kartu. Ada yang duduk di pinggiran menghisap kretek. Dan sisanya tiduran sambil memainkan telepon genggamnya. Beberapa di antara mereka masih kecil, mungkin masih SD kelas V atau VI.
“Maaf, mas. Memang saya kira ini kampung saya yang sepuluh tahun lalu saya tinggalkan. Tapi saya merasa aneh dengan ketidakhadiran sawah-sawah yang dulu pernah menyejahterakan orang-orang tua kita. Sekarang sawah-sawah di mana ya?
“Apa peduli Lo? Udah dijual buat bayar utang. Percuma juga ditanami, lahannya udah kagak subur. Sekarang dibangun gedung-gedung itu,” yang lain menimpali.
“Oh, begitu ya. Terima kasih atas informasinya. Mari.”
Kutinggalkan gardu beserta para pemuda yang sedang asik bermain domino dengan iringan lagu-lagu pop masa kini. Sekarang kampungku sudah maju, mungkin semua orang telah memiliki telepon genggam. Sepuluh tahun yang lalu, bahkan, untuk menonton Mike Tyson menggigit telinga Holifil di TV saja harus berjejal di rumah Pak Lurah. Dan, para penonton sudah berdatangan sejak pagi buta.
#Memori
Aku berjalan, mencoba menebak-nebak setiap perubahan penampilan lingkungan sekitar. Mengira-ira dan mencocokkannya dengan memori sepuluh tahun yang silam. Tapi pembicaraan dengan pemuda tadi masih menyisakan tanya: apa pemuda tadi berbohong?
Rasanya, bahasa terakhir yang kuucapkan ketika aku meninggalkan kampung tidak seperti bahasa yang kudengar dari pemuda tadi. Mungkinkah ini bukan kampungku? Dan, orang-orang yang dulu mengantar kepergianku hendak ke rantau tidak pernah menunjukkan kekerasan dalam berbahasa. Benar, kenangan terakhir yang kuingat tidaklah seperti kenyataan yang ada di hadapanku sekarang. Tapi, untuk sedikit membuatku tenang, aku beranggapan bahwa perubahan adalah suatu kewajaran, dan abadi. Meski, bila aku menilai perubahan itu secara kuantitatif, persamaan perubahannya pastilah ada variabel eksponensial-lebih-dari-satu.
Aku ingat teman-teman bermain waktu kecil dulu begitu lucu dan lugu. Dengan permainan sederhana berupa panggal, layang-layang, yoyo dari kayu, dan ketapel, kami bermain begitu aktif. Sekarang, di kampung ini, sepertinya anak-anak lebih banyak duduk dan bermain play station di ruko-ruko yang dibangun di atas bekas sawah-sawah warga itu. Sepulang dari bosan bermain PS, beberapa anak-anak turut berkumpul di gardu pinggir jalan dan mulai belajar bersiul jika ada gadis berlalu. Anak-anak sudah beranjak dewasa. Maksudku, lebih dewasa dari umurnya.
#Masih Mencari Pertanda
Sampai di manakah aku akan berusaha mencocokkan keadaan sepuluh tahun yang lampau dengan keadaan sekarang? Aku lelah mencari pertanda bahwa aku tidak salah pulang kampung. Aku butuh istirahat. Siang begitu panas karena terlalu sedikit pohon-pohon peneduh—kebanyakan rumah menanam tanaman hias yang sama sekali tak banyak berguna kecuali warnanya yang indah. Tapi aku tidak ingin mencoba minta keteduhan dari rumah orang. Aku tak yakin akan terkabul permintaan singgahku dengan tatusku yang orang asing, tak dikenal.
Kebetulan sebentar lagi lohor. Lebih baik nanti kurebahkan tubuh ini di tempat yang tidak di miliki oleh siapa pun orang—atau justru orang-orang merasa bahwa tempat itu milik bersama. Aku mencoba mencari bangunan berpucuk bulan-bintang. Ada banyak, dan megah sepertinya. Kutunggu barang satu-dua orang untuk ibadah bersama. Hingga kantuk mulai menghampiri, hanya nihil yang tampak, alias tidak ada seorang pun datang. Ke mana orang-orang? Ah, mungkin orang-orang sedang sibuk atau lebih memilih berjamaah di rumah bersama keluarga di siang panas ini dan baru nanti magrib surau ini akan ramai. Sekarang kutunaikan kewajibanku sendiri lalu istirahat menungggu ashar dan sore.
Tapi senja begitu sepi, di sini. Hanya orang-orang tua penanti ajal yang datang—itu saja setelah kuteriakkan panggilan. Anak-anak kecil tidak ada. Mungkin di rumah masing-masing. Tapi tetap saja tidak kudengar suara lamat-lamat orang mengaji. Ternyata banyak kutemui kepulan asap di gardu-gardu ronda yang berbau alkohol. Dan amis.
#Ujung Jalan
Aku masih berjalan hingga ujung kampung. Masih berharap inilah kampung halamanku. Dan, aku tidak salah dengan harapan itu karena kutemukan kesamaan getar bumi yang kupijak dengan degup jantungku. Ini adalah kampungku yang sepuluh tahun kutinggal merantau; meski aku dilahirkan tanpa tempat tinggal. Yang artinya aku lahir di kampung ini di mana tak satu pun dari rumah yang berdiri adalah rumahku, karena satu jam setelah kelahiran, aku berstatus yatim piatu dan miskin.
#Kembali Pulang
Tapi aku menyesal atas kepergianku yang begitu lama. Atas nama ilmu aku pergi ke rantau. Lalu, atas nama pengamalan ilmu aku bertahan di rantau. Atas nama kebahagian, aku menikmati kebersamaan dengan kawan serantauan. Tapi aku lupa, atas nama pengabdian, harusnya aku pulang lebih cepat. Lalu sedikit demi sedikit aku membangun kampung sebagai pengabdian.
Murtirejo, 30 Desember 2010
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Mabruri menulis |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.