Teropong

Ketika aku rindu akan suatu tempat yang pernah kukunjungi, aku menulisnya untuk aku baca bila aku rindu lagi. Siapa tahu orang lain juga ingin tahu tempat-tempat yang pernah kukunjungi.



Ketika aku rindu akan suatu tempat yang belum pernah kukunjungi, aku membacanya dari berbagai sumber. Itu cukup menghalusinasikan diri dan membohongi diri bahwa aku pernah ke sana. Setidaknya, bila ada orang bicara tentang tempat itu, aku mempunyai sedikit bahan pembicaraan.



Ketika aku rindu akan suatu tempat yang belum tertulis, mungkin tempat itu tidak ada atau belum ada orang pergi ke sana, aku akan menulisnya dengan gambaran yang aku inginkan.



Membaca laksana meneropong. Ketika bacan itu adalah suatu tulisan deskripsi tentang suatu tempat, seolah-olah aku sedang meneropong suatu tempat yang jauh cukup dari dalam kamarku. Ketika bacaan itu adalah tulisan narasi tentang peristiwa, seolah-olah aku sedang meneropong suatu opera atau drama yang entah di mana cukup dilihat dari tempatku membaca. Hewat waktu, serasa melipat-lipat waktu.



Qoute by a friend of mine: "Ketika aku rindu padamu, aku memanjangkan 'teropong'. Mengamatimu dari jauh tanpa kau tahu."


This should be encrypted []Di beranda, ada pajangan-pajangan yang sengaja kau letakkan. Kadang lukisan diri, kadang lukisan orang lain. Tapi itu semua terpajang di dinding dan di beranda. Itu artinya kau mengijinkan orang yang lewat di depan berandamu dan melihat-lihat keindahan pemandangan yang sengaja kau sediakan. Terima kasih.[]


Saya [penulis note ini] takut terjadi salah paham dengan paragraf tepat di atas ini. Mohon mengertilah bahwa seorang penulis kadang butuh 'menjadi orang lain'.


di ruang keluarga pada malam Jumat pahing yang hening.

An Endless Chain of Heaven

Clue 1: Surga seorang anak laki-laki ada di telapak kaki ibunya.(untuk anak perempuan lihat clue 2 yang berlaku khusus ketika telah menikah)

Clue 2: Surga seorang wanita ada di telapak kaki suami. (mengertilah bahwa clue 2 ini bersamaan arti dengan 'wanita harus tunduk pada perintah suaminya selain pada perintah kemaksiatan')



Jadi, seorang anak laki-laki harus patuh pada ibunya dan ibu itu harus patuh pada suaminya. Sang suami itu harus patuh pada ibunya yang mana ibu itu juga harus patuh pada suaminya dan suami itu harus patuh pada ibunya dan ibunya harus patuh pada suaminya yang harus patuh pada ibunya yang juga ibu itu patuh pada suaminya dan......seterusnya.



Sebenarnya sih bukan 'endless chain', tetapi 'chain' ini berhenti pada 'Hawa harus patuh pada Nabi Adam a.s.'.



ruang keluarga Al Kausar 52 pada malam Jumat pahing

Potong Pendek di Rumah

[]
Nama Bayi

Susahnya memberi sebuah nama untuk bayi. Harus penuh pertimbangan. Meski bayi ini adalah sebuah tokoh dalam cerita yang sedang saya buat. Saya berusaha realistis lantaran cerita yang realis imajinatif atas dasar pengetahuan.

[]
Pengandaian

Ketidakmampuan manusia akan sesuatu membuat manusia berandai-andai akan sesuatu itu. Naasnya, Tuhan tidak suka dengan pengandaian. Jadi, mana mungkin Dia mengabulkan suatu pengandaian? Pengandaian kesannya seperti menolak takdir.

[]
Seorang Pelari

Aku bisa saja berlari 100 meter dalam 12 detik. Tapi apa itu perlu kulakukan hanya untuk mengejar cintamu?

NB: Bolt, pelari asal Jamaika peraih medali emas olimpiade untuk berbagai nomor, membutuhkan waktu kurang dari 10 detik untuk nomor lari 100 m putra. Suryo Agung, sprinter Indonesia asal Solo, masih membutuhkan waktu di atas 10,5 detik untuk jarak yang sama. Sprinter tercepat di kampus saya tahun 2010 membutuhkan waktu 12,21 detik (on the record) untuk nomor 100 m putra.

Pena (Sebuah Pameran Foto)

Kadang ketika saya berada di suatu tempat yang indah dan pada momen yang berharga, saya ingin sekali mengabadikannya dalam gambar. Misalnya ketika saya berada di dekat Pantai Carita (tidak sepenuhnya berada di pantai itu), di dermaga 3 Pelabuhan Merak, pada saat menghadiri wisuda, dan lain sebagainya. Ingin sekali saya mengabadikannya. Namun sayangnya, saya tidak memiliki kamera yang memadai; kamera digital pun tidak punya apalagi SLR.



Syukurlah akhirnya saya bisa mengabadikan momen dan tempat itu. Jadilah foto yang luar biasa bagus. Ini dia hasilnya.



*



Foto Pertama

Judul: Ingin Pergi ke Kotamu

Tempat: dermaga 3 Pelabuhan Merak

Waktu: Desember 2010



Pada foto terlihat kapal Mitra Nusantara yang baru saja menjauh dari dermaga 3 Pelabuhan Merak. Kapal bergerak menjauh sehingga yang tampak adalah bagian belakangnya. Masih terlihat jelas para penumpang yang duduk di dok paling atas, ada yang di bawah atap perahu, ada juga yang meminggir di pagar-pagar, dan juga di samping tempat parkir mobil di dok itu.



Posisi gambar kapal di foto itu ada di bagian kanan sedang dikiri foto ada karang yang terlihat hampir kotak. Jalur kapal ada di sisi kanan untuk menghindari karang itu. Air mengalun lembut sampai di tepian foto bawah dan di ujung pandangan adalah garis perspektif foto yang sengaja saya letakkan pada posisi tengah. Dengan begitu, laut dan langit mempunyai porsi yang sama untuk dilihat. Itu sengaja saya lakukan agar langit yang cerah dan laut yang lembut memberi kontribusi yang sama dalam keindahan foto saya.



Tidak ada objek yang saya fokuskan karena saya ingin membuat foto yang seolah-olah mewakili suasana hati saya. Saya sedang memandang jauh, ke utara, ada Pelabuhan Bakauheni yang tak terlihat di sana. Bakauheni adalah pintu gerbang Propinsi Lampung, termasuk salah satu pintu menuju Sumatera, via kapal laut. Dan, saya ingin pergi ke kotamu.



Foto kedua

Judul: Dirimu Bukan Putri Dhomas

Tempat: Kawah Dhomas-Tangkuban Perahu

Waktu: November 200X



Hujan. Asap dari beberapa kubangan air belerang tetap naik ke atas meski air hujan turun ke bawah. Mungkin air hujan tidak sempat memberi tahu bahwa di atas angin mulai ribut dan asap tidak sempat memberi tahu kalau di bawah terlalu banyak belerang yang akan menyampuri air hujan yang suci.



Kau juga naik, meninggalkan Kawah Dhomas. Sedang aku turun, menuju kawah Dhomas bersama dua penguasa kawah ('dho'; artinya 'dua'). Aku turun dan kau naik karena tidak saling memberi tahu, lebih tepatnya tidak bisa berkomunikasi



Hingga yang tampak dalam foto hanya hujan, asap, dan batu-batu sebagai latar belakang. Ada sedikit ranting pohon berdaun jarang yang menyusup foto di sebelah kanan . Kiri-kanan foto itu di bingkai oleh bambu-bambu yang menjadi tiang penyangga warung di mana saya mengambil gambar. Sedang bingkai atas-bawah adalah atap warung dan pagar warung yang juga terbuat dari bambu.



Kurasa foto saya ini juga hebat. Tetap tak ada yang difokuskan karena yang harusnya menjadi model adalah dirimu.



Foto Ketiga

Judul: Kereta Terbang

Tempat: Bumiayu

Waktu: mudik kelima, Desember 2010



Kereta telah memberi cacatan tersendiri sejak sejarah masa kecil saya. Selama mudik dari ibu kota, samapi saat ini, hanya kereta yang saya gunakan. Begitu juga dengan berangkatnya. Pemandangan yang akan dilalui bila menggunakan jalur Cirebon-Purwokerto (perpindahan dari pantura ke jalur selatan) yang paling indah akan berada di daerah Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah. Di situ, ketika kereta melintasi jembatan yang menghubungkan dua bukit, uuuhhh luar biasa pemandangannya. Dan, saya merasa terbang karena tidak bisa melihat daratannya. Keretanya berada di atas rata-rata pepohonan di situ.



Tapi, berkat kecanggihan kamera saya, foto yang dihasilkan bukan pemandang dari atas kereta. Tapi sebaliknya. Kereta tepat sekali berada di atas jembatan di antara dua bukit. Sekitar pukul dua siang, langit cerah seperti biasa. Teknik pengambilan foto tentu saja 'frog eye'atau mata katak karena objek yang saya ambil ada di atas (pengabadi momen ada di bawah, kaki bukit). Bagian bawah foto relatif banyak berwarna hijau pepohonan sedang bagian atas warna biru langit. Di antara keduanya itulah kereta berada.



Kereta itu terbang.



*

Alhamdulillah, kamera yang saya gunakan tidak mahal tetapi luar biasa canggih. Harganya hanya Rp2.000,00 dan saya beli di tempat fotokopian di Kalimongso. Keunggulan kamera saya ini adalah bisa menggambar objek di masa lalu (foto kedua), memotret perasaan yang ada di hati (foto pertama), dan menggambar objek dari sudut pandang orang lain sehingga seolah-olah kamera saya bisa berada di manapun (foto ketiga).



Terima kasih telah datang ke Pameran Foto "Pena" karena kamera yang saya gunakan adalah 'bolpoin' dan foto dicetak pada kertas folio bergaris.

Surga yang Hilang

C103: Kuliah Ekonomi Makro



Surga yang Hilang



Pagi hari di pekarangan rumah:

Burung-burung manyar di pohon-pohon nyiur,

Bernyanyi tentang keindahan dan pujian

Kupu-kupu di bunga-bunga madu,

Mereka saling membantu dalam kesejahteraan

Cacing-cacing di dalam tanah lembab,

Siapa yang mengira mereka sedang bermesraan?



Siang hari di sawah-sawah:

Angin, hijau, panas semilir

Gubuk-gubuk peristirahatan menjadi tempat bersandar

Setelah rantang disantap bersama siang

Dan sawah-sawah dicangkul subur



Sore hari di Kali Tapak Ular;

Anak-anak bermain air: mandi

Ibu-ibu mengambil cucian kering

Ayah-ayah mengamati mereka di antara asap-asap rokok

Air bahagia karena dikunjungi

Angin tak merana menjadi nafas



Malam hari di pemondokan;

Lamat-lamat suara bersahutan

Dari rumah ayat-ayat dibacakan

Dari pekarangan, kunang-kunang berusaha menajawab

Lewat cahayanya yang kedap-kedip

Dari kali, kodok mengaminkan



tapi cacing tertawa dengan semua kebohongan ini, keesokan harinya.



Selesai di C204: Accounting Information System



Menurut Adam Smith dan Malthus, salah satu akibat yang terjadi dari pertumbuhan ekonomi adalah surga yang hilang.



Diambil dari halaman Book of Abdullah yang bertanggal 22 Januari 2011

Lelaki yang Membelah Bulan

Ceritakan padaku tentang lelaki yang kau idamkan, sayang!



Kau jawab: lelaki yang membelah bulan.



Aku bertanya lagi: Siapa itu, sayang?



Telah diceritakan di dalam kitab yang tiada keraguan di dalamnya bahwa pada suatu waktu bulan pernah sekali dibelah oleh seorang lelaki.Lelaki itu adalah lelaki yang bercahaya, lelaki yang wangi, lelaki yang terpercaya, lelaki yang tersenyum.



Aku cemberut, lalu bertanya lagi: apa kau menyukainya?



Kau jawab: setiap wanita harusnya cinta padanya, setiap lelaki juga semestinya begitu. Bahkan semesta alam mencintainya, seharusnya. Sekarang, aku yang bertanya: apa kau juga termasuk golongan lelaki yang mencintainya? Atau justru cemburu padanya?



Aku jawab: ada perbedaan pengertian yang seharusnya tidak kupermasalahkan (antara cinta dan cemburu; sebagai lelaki). Aku mencintainya sebagaimana seharusnya seluruh alam mencintainya.



Diambil dari Book of Abdullah pada halaman yang bertanggal 8 Desember 2010.

*

Siapakah lelaki yang membelah bulan? Carilah pada kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya.

I Need Your Help, Mama

Mama, get up from your nightmare about the only one boy of yours! I need your help! Please, Mama, pray for me (and so do us)! Pray, Mama, pray! What a thanks!!!
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Mabruri menulis |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.